Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kesehatan Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Ujung Tombak Indones...
Kesehatan

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Ujung Tombak Indonesia Hadapi Ancaman Virus Nipah

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Ujung Tombak Indonesia Hadapi Ancaman Virus Nipah

Ancaman penyakit zoonosis kian menjadi perhatian global seiring meningkatnya interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. Perubahan ekologis, mobilitas penduduk, serta dinamika penggunaan lahan dapat memperbesar peluang munculnya penyakit menular baru yang berasal dari satwa liar. Salah satu patogen yang menjadi perhatian dunia adalah Virus Nipah, virus zoonotik dengan tingkat fatalitas tinggi yang berpotensi menimbulkan wabah. 

Baca juga: Kondisi Ekologis Dinilai Buat Indonesia Rentan terhadap Ancaman Virus Nipah

Dengan menyadari potensi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kesiapsiagaan nasional melalui forum kolaborasi lintas sektor yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong. Forum ini mempertemukan pemerintah, peneliti, akademisi, organisasi internasional, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah pencegahan berbasis pendekatan One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Dalam diskusi ilmiah, para peneliti menekankan pentingnya pemetaan wilayah berisiko sebagai dasar penguatan sistem surveilans nasional. Virus Nipah diketahui memiliki reservoir alami kelelawar buah genus Pteropus yang tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti menyatakan bahwa berbagai wabah Virus Nipah di kawasan tersebut menunjukkan tingkat fatalitas sekitar 40–70 persen. Kondisi biodiversitas Indonesia yang tinggi serta luasnya habitat satwa liar menjadi faktor penting dalam analisis geospasial potensi penyebaran penyakit. Pemetaan distribusi satwa reservoir dan wilayah interaksi manusia dengan satwa liar dinilai dapat membantu mengidentifikasi area dengan risiko spillover virus lebih tinggi.

Perubahan lingkungan dan mobilitas manusia juga menjadi faktor penting dalam potensi penyebaran penyakit zoonosis. Kepala Pusat Riset Veteriner BRIN, Harimurti Nuradji menyatakan bahwa meskipun Indonesia belum melaporkan kasus konfirmasi Virus Nipah, dinamika interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan tetap menuntut langkah antisipatif yang kuat. Peningkatan mobilitas penduduk, perdagangan ternak, perubahan tata guna lahan, dan urbanisasi dapat menciptakan ruang interaksi baru yang berpotensi menjadi jalur penularan penyakit. Oleh karena itu, penguatan surveilans berbasis risiko, peningkatan kapasitas 

Forum yang juga melibatkan World Health Organization menghasilkan berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan pertukaran data epidemiologi. Peneliti BRIN Sabar Pambudi menyatakan bahwa pengembangan vaksin, terapi, dan obat menjadi strategi jangka panjang dalam menghadapi Virus Nipah. Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan analisis geospasial, Indonesia diharapkan mampu memperkuat sistem kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!