Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Film The Great Flood Jadi Bukti bahwa Kehidupan Manusia...
Film

The Great Flood Jadi Bukti bahwa Kehidupan Manusia Bisa Diselamatkan oleh Teknologi Geospasial

The Great Flood Jadi Bukti bahwa Kehidupan Manusia Bisa Diselamatkan oleh Teknologi Geospasial

Peringatan: Tulisan ini mengandung spoiler.

Pada akhir tahun 2025, penikmat film disuguhkan tontonan bencana asal Korea Selatan berjudul The Great Flood, yang mengisahkan banjir besar yang melanda kawasan perkotaan futuristik, ketika batas antara teknologi modern dan kekuatan alam runtuh dalam sekejap. Manusia digambarkan harus berjuang bertahan hidup di tengah lingkungan yang selama ini mereka anggap sudah sepenuhnya dapat dikendalikan. Dibintangi oleh Kim Da-mi dan Park Hae-soo, film ini tidak berhenti pada sensasi visual khas genre bencana, tetapi menawarkan lapisan refleksi tentang cara manusia membangun, menata, dan membaca ruang hidupnya.

Disutradarai oleh Kim Byung-woo, The Great Flood menghadirkan plot twist yang menggeser fokus cerita. Upaya penyelamatan tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan fisik atau keberanian individu, melainkan pada kemampuan teknologi dalam memahami bencana. Film ini menampilkan bagaimana data geospasial, pemodelan wilayah, serta sistem pemetaan digital digunakan untuk memprediksi arah banjir, mengidentifikasi zona rawan, dan menentukan jalur evakuasi paling aman di tengah kekacauan.

Melalui narasi bencana futuristik tersebut, The Great Flood menyuarakan pesan bahwa keselamatan manusia di masa depan sangat bergantung pada kemampuan membaca ruang secara akurat dan bertanggung jawab. Ketika teknologi mampu memetakan risiko, tetapi kebijakan tata ruang dan kesadaran manusia tertinggal, bencana tetap menjadi ancaman nyata. Lalu, isu geospasial apa saja yang sebenarnya ditawarkan film ini? Apakah sekadar kecanggihan peta digital, atau kritik mendalam terhadap cara manusia memanfaatkan data spasial dalam menghadapi krisis iklim dan bencana di dunia nyata?

Saat Bencana Dimodelkan dan Dipelajari

Berlatar di masa depan yang suram, The Great Flood menggambarkan Bumi yang hancur akibat hantaman asteroid yang menyebabkan pencairan es d kutub secara instan sehingga memicu banjir global yang menenggelamkan sebagian besar daratan. Cerita berfokus pada Anna (diperankan oleh Kim Da-mi), seorang peneliti pengembangan AI yang terjebak di sebuah kompleks apartemen berteknologi tinggi yang perlahan tenggelam. Bersama Hee-jo (diperankan oleh Park Hae-soo), seorang petugas keamanan yang misterius, mereka berjuang menaiki lantai demi lantai untuk bertahan hidup dari naiknya muka air laut yang ekstrem.

Gambar 1

Namun, film ini menyajikan plot twist yang membuat penontonnya bikin geleng-geleng kepala. Rupanya, serentetan perjuangan yang dialami Anna bukanlah kejadian yang terjadi sekali di dunia nyata, melainkan sebuah simulasi berulang dalam lingkaran waktu yang dijalankan oleh sistem Kecerdasan Buatan. Tujuan utama dari simulasi ini adalah melatih AI untuk mempelajari segala kemungkinan variabel kegagalan dan menemukan satu-satunya skenario di mana Anna bisa diselamatkan. Realitas dalam film ini adalah tumpukan data yang diproses berulang kali demi mencapai probabilitas keselamatan tertinggi.

Konsep Pemodelan Digital Twin dan Machine Learning

Dalam sudut pandang geospasial, teknologi AI yang dalam film disebut Emotion Engine sejatinya merepresentasikan penerapan konsep digital twin secara sederhana dan mudah dipahami. Digital twin dapat dibayangkan sebagai kembaran digital dari dunia nyata. Dalam cerita film, sistem ini membangun replika virtual gedung apartemen beserta dinamika banjir yang mengancam, lalu menjadikannya sebagai ruang simulasi untuk menguji berbagai kemungkinan penyelamatan tanpa mempertaruhkan nyawa manusia sungguhan.

Setiap kali simulasi berakhir gagal, yang divisualisasikan melalui adegan Anna tidak selamat, Emotion Engine tidak berhenti begitu saja. Sistem ini mencatat secara rinci penyebab kegagalan tersebut, misalnya karena jalur evakuasi yang keliru, waktu yang terbuang terlalu lama, atau faktor eksternal seperti arus air yang makin deras. Informasi ini kemudian diolah sebagai bahan pembelajaran. Keputusan yang berujung pada kematian dianggap sebagai pilihan yang harus dihindari, sementara langkah-langkah yang membuat Anna bertahan lebih lama dinilai lebih baik dan diprioritaskan pada simulasi berikutnya.

Gambar 2

Rangkaian kejadian yang ditampilkan melalui adegan berulang atau looping tersebut sesungguhnya menggambarkan proses machine learning. Secara sederhana, mesin belajar dari pengalaman, mirip seperti manusia yang belajar dari kesalahan. Perbedaannya, Emotion Engine mampu mengulang proses ini ribuan kali dalam waktu yang sangat singkat. Dari pengulangan itulah sistem secara bertahap menemukan pola keputusan yang paling aman dan paling efisien agar manusia dapat bertahan hidup dari banjir besar.

Film ini juga menegaskan bahwa pemodelan bencana modern tidak hanya berkutat pada perhitungan curah hujan dan volume air. Bentuk wilayah, struktur bangunan, hingga perilaku manusia turut dimasukkan ke dalam simulasi tiga dimensi. Dengan memodelkan apartemen tempat Anna terjebak, Emotion Engine menyimpulkan bahwa strategi paling masuk akal untuk bertahan adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.

Melalui pendekatan ini, kegagalan di dunia digital justru menjadi keuntungan besar. Kesalahan yang terjadi dalam simulasi tidak menimbulkan korban nyata, tetapi menghasilkan pengetahuan yang sangat berharga. Dengan menjalankan berbagai skenario banjir secara virtual, para ahli dapat memetakan jalur evakuasi paling aman, mengenali titik bangunan yang paling berisiko runtuh, serta memahami bagaimana air bergerak di lingkungan perkotaan yang padat. Narasi dalam film The Great Flood ini menegaskan bahwa pembelajaran dari dunia digital adalah fondasi penting untuk meningkatkan peluang keselamatan di dunia nyata.

Teknologi Geospasial sebagai Kunci Keselamatan Manusia di Masa Depan

The Great Flood menegaskan bahwa teknologi geospasial bukan sekadar pelengkap kemajuan peradaban, melainkan fondasi utama dalam menyelamatkan kehidupan manusia di masa depan. Film ini memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya harus dihadapi dengan keberanian dan respons darurat, tetapi juga dengan pemahaman ruang yang presisi, berbasis data, dan terus diperbarui.

Melalui simulasi, pemodelan digital twin, dan machine learning, risiko dapat dipelajari sebelum benar-benar terjadi sehingga kesalahan fatal tidak perlu dibayar dengan korban nyata. Pesan yang disampaikan film ini terasa relevan dengan kondisi dunia saat ini, ketika perubahan iklim membuat bencana makin sulit diprediksi. The Great Flood seolah mengingatkan bahwa masa depan keselamatan manusia bergantung pada seberapa serius kita memanfaatkan teknologi geospasial, bukan hanya untuk memetakan bencana, melainkan juga untuk membangun keputusan yang lebih bijak, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan bersama.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (1)


Ayudia Kinanti
Ayudia Kinanti
1 minggu yang lalu

Udah pernah nonton filmnya min, keren tryt bs disangkutpautin dengan ilmu spasial