Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Digital Twin Jejak Tujuh Keajaiban Kuno Dunia Bakal Direkonstru...
Digital Twin

Jejak Tujuh Keajaiban Kuno Dunia Bakal Direkonstruksi lewat Teknologi Digital Twin

Jejak Tujuh Keajaiban Kuno Dunia Bakal Direkonstruksi lewat Teknologi Digital Twin

Di tengah kemajuan teknologi pemetaan bawah laut dan pemodelan tiga dimensi, sejarah yang selama ini tenggelam perlahan kembali ke permukaan melalui pendekatan ilmiah berbasis data spasial. Upaya arkeologi bawah laut di Pelabuhan Timur Alexandria, Mesir membuka lembaran baru penelitian warisan dunia kuno setelah 22 balok batu raksasa dengan berat hingga 80 ton berhasil diangkat dari dasar laut.

Struktur tersebut teridentifikasi sebagai bagian dari mercusuar legendaris Pharos of Alexandria, salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Dilansir dari GBN Britain's News Chanel, bangunan monumental ini secara historis didirikan pada awal abad ke-3 SM oleh Dinasti Ptolemaik Mesir Kuno pada masa pemerintahan Ptolemaios II Philadelphos (280–247 SM).

Setelah berhasil diangkat ke permukaan, penelitian memasuki fase baru yang lebih kompleks. Situs arkeologi ini menjadi bagian dari proyek internasional Pharos yang dipimpin oleh arkeolog Isabelle Hairy, dengan tujuan mengembangkan digital twin atau rekonstruksi virtual berpresisi tinggi dari mercusuar tersebut.

Jejak Tujuh Keajaiban Kuno Dunia Bakal Direkonstruksi lewat Teknologi Digital Twin - Gambar 1
Para arkeolog mengangkat batu seberat 80 ton dari dasar laut yang terkait dengan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno.

Dalam prosesnya, setiap balok batu akan dipindai menggunakan teknologi pemindaian tiga dimensi resolusi tinggi untuk menangkap detail pahatan, teknik penyambungan, serta jejak erosi. Proses ini memungkinkan para peneliti mengamati teknik konstruksi dan desain struktural, sekaligus menyusun hipotesis ilmiah mengenai bentuk asli dan tahapan pembangunan mercusuar. Melalui pemodelan ini, peneliti dapat merekonstruksi bangunan serta lingkungan sekitar mercusuar tersebut pada abad ke-3 SM dan menguji bagaimana struktur setinggi lebih dari 100 meter tersebut dirancang.

Pada akhirnya, proyek rekonstruksi digital ini bukan sekadar upaya menghidupkan kembali kemegahan masa lalu. Proyek ini juga membuktikan bahwa integrasi arkeologi, teknologi pemindaian tiga dimensi, dan analisis spasial mampu menjembatani jarak ribuan tahun sejarah, menjadikan puing-puing yang pernah tenggelam sebagai sumber pengetahuan baru yang presisi dan berkelanjutan bagi peradaban modern.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!