Isu virus Nipah kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap penyakit menular baru yang berpotensi menimbulkan dampak luas. Dalam menyikapi hal ini, Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau zoonosis. Penyakit ini perlu dipahami secara ilmiah karena memiliki tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah jika tidak diantisipasi dengan baik, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia.
Secara alami, virus Nipah memiliki reservoir utama kelelawar buah dari kelompok Pteropus. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit sehingga keberadaannya sering tidak disadari sebagai sumber risiko. Virus dapat berpindah dari kelelawar ke hewan lain, seperti babi, lalu menular ke manusia. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar, serta melalui kontak langsung antarmanusia pada kondisi tertentu.
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa virus Nipah telah bersirkulasi di alam. Studi di Kalimantan Barat menemukan antibodi virus Nipah pada sejumlah sampel darah kelelawar. Penelitian lain di Sumatera Utara berhasil mendeteksi materi genetik virus dari sampel saliva dan urin kelelawar. Bahkan, virus serupa juga ditemukan pada kelelawar di Pulau Jawa dengan karakter genetik yang dekat dengan virus Nipah di kawasan Asia Tenggara sehingga memperkuat bukti ilmiah keberadaannya di Indonesia.
Kondisi ekologis Indonesia membuat risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Tingginya keanekaragaman jenis kelelawar, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta aktivitas perburuan dan perdagangan satwa meningkatkan peluang terjadinya penularan. Keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai dan populasi babi yang besar di beberapa wilayah juga memperbesar risiko penularan lintas spesies.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah sehingga upaya pencegahan menjadi langkah paling penting. BRIN mendorong penguatan pemantauan penyakit pada satwa liar, hewan ternak, dan manusia, serta peningkatan kemampuan deteksi di berbagai daerah. Pendekatan One Health yang melibatkan kerja sama lintas sektor dinilai menjadi kunci agar Indonesia lebih siap dan waspada menghadapi potensi ancaman virus Nipah di masa mendatang.
