Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home D. I. Yogyakarta Dinas Kebudayaan DIY Kini Petakan Kawasan Cagar Bu...
D. I. Yogyakarta

Dinas Kebudayaan DIY Kini Petakan Kawasan Cagar Budaya dengan Scan 3D HBIM

Dinas Kebudayaan DIY Kini Petakan Kawasan Cagar Budaya dengan Scan 3D HBIM

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus melakukan inovasi dalam menjaga kelestarian warisan leluhur. Melalui pemanfaatan teknologi terkini, instansi ini menerapkan metode Heritage Building Information Modeling (HBIM) untuk mendokumentasikan bangunan dan kawasan cagar budaya secara presisi. Kepala Seksi Pemeliharaan Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan DIY, Marendra Mikaton, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pemeliharaan dan pengembangan warisan budaya di wilayah Jogja.

Penerapan HBIM diawali dengan proses pemindaian tiga dimensi (3D scan) terhadap objek cagar budaya. Data hasil pemindaian tersebut kemudian diolah menjadi model digital yang sangat mendetail. Marendra menyebutkan bahwa kebutuhan akan data yang lebih akurat dan modern menjadi alasan utama di balik proyek ini.

"Sebenarnya kalau ditanyakan tadi di awal, apa yang melatar belakangnya sebenarnya kalau bisa dikatakan secara umum sebenarnya adalah terkait dengan kebutuhan data dengan menggunakan teknologi yang lebih proper. Lebih proper, lebih masa kini," ujar Marendra dalam siniar MadPod di Studio Madhava Persada Group, Sleman, Selasa, 10 Februari 2026.

Penggunaan teknologi ini memungkinkan data cagar budaya tersimpan dengan tingkat akurasi tinggi sehingga dapat dimanfaatkan dengan lebih baik untuk kepentingan konservasi maupun edukasi.

Dinas Kebudayaan DIY Kini Petakan Kawasan Cagar Budaya dengan Scan 3D HBIM - Gambar 1
Dalam foto dari kiri ke kanan: Host Madpod Amor Cakra dan Kepala Seksi Pemeliharaan Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan DIY Marendra Mikaton.

Integrasi Data pada Platform Digital

Marendra mengatakan bahwa Dinas Kebudayaan DIY memastikan hasil pemodelan ini tidak hanya berhenti sebagai arsip internal. Data tersebut diintegrasikan ke dalam dua platform berbasis situs web:

  • Jogjacagar (jogjacagar.jogjaprov.go.id): Memuat data dan dokumentasi cagar budaya secara dua dimensi maupun tiga dimensi.
  • JogjaPugar (jogjapugar.jogjaprov.go.id): Platform pendukung untuk pengelolaan informasi bangunan cagar budaya.

Marendra menekankan bahwa dokumentasi tiga dimensi hasil HBIM menjadi bagian penting dalam memperkaya informasi di platform Jogjacagar. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat mengakses data cagar budaya dengan cara yang lebih interaktif.

Transformasi Menuju Heritage Site Information Modeling (HSIM)

Meski secara terminologi HBIM merujuk pada "bangunan" (building), Dinas Kebudayaan DIY mulai mengembangkan cakupannya ke arah yang lebih luas. Marendra mengungkapkan aspirasinya untuk memperluas pemodelan ini hingga mencakup situs dan kawasan.

"Kalau kami di Dinas Kebudayaan memang punya bangunan cagar budaya, tapi kemudian tidak berhenti dari situ," jelasnya. Ia menambahkan bahwa ke depannya, pemodelan ini bisa menyasar objek cagar budaya yang lebih kompleks.

Secara spesifik, Marendra mengusulkan istilah pengembangan yang lebih relevan dengan cakupan kerja di lapangan. "Jadi sebenarnya gini, kalau kami boleh mengganti singkatannya HBIM itu bisa kami singkat jadi HSIM. Karena yang awalnya Heritage Building Information Modeling menjadi Heritage Site Information Building. Jadi mungkin akan ada pengembangan ke situ."

Tantangan Skalabilitas dan Edukasi Generasi Muda

Dengan banyaknya objek cagar budaya di Yogyakarta, mulai dari peringkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional, tantangan utama terletak pada skalabilitas. Marendra menilai perlu ada prioritas mengenai objek mana yang akan dipetakan terlebih dahulu berdasarkan kebutuhan dan nilai historisnya.

Pemanfaatan model digital ini juga diharapkan menjadi jembatan informasi bagi generasi saat ini. Dibandingkan hanya melihat buku lama atau gambar dua dimensi, model digital memberikan visualisasi yang lebih menarik dan mudah dipelajari.

Marendra meyakini bahwa perkembangan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) di masa depan akan membuat proses ini makin akurat dan efisien. Digitalisasi ini diharapkan mampu menjaga memori kolektif bangsa tentang kemegahan arsitektur masa lalu dalam format yang abadi.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!