Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Geopolitik Gara-Gara Drone, Hubungan Korea Selatan dan Korea...
Geopolitik

Gara-Gara Drone, Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara Memanas

Gara-Gara Drone, Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara Memanas

Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat dan kini menjadi perhatian dunia internasional. Hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang sempat menunjukkan tanda-tanda mereda justru kembali memanas dalam waktu singkat. Situasi ini dipicu oleh insiden drone yang melintasi perbatasan, lalu berkembang menjadi aksi militer berupa peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara.

Pada Rabu pagi, 8 April 2026, Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah perairan di lepas pantai timurnya, sebagaimana diberitakan Bloomberg Technoz. Menurut laporan militer Korea Selatan, peluncuran dilakukan dari kawasan dekat Wonsan. Aksi tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyampaikan penyesalan atas insiden drone yang sempat memasuki wilayah udara Korea Utara.

Permintaan maaf itu sebelumnya sempat dianggap sebagai langkah positif untuk meredakan ketegangan. Pemerintah Seoul bahkan menilai adanya pertukaran pesan antara Lee Jae Myung dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai sinyal baik bagi hubungan kedua negara. Harapan muncul bahwa kedua pihak bisa membuka ruang dialog demi menjaga stabilitas kawasan.

Namun, harapan tersebut tidak berlangsung lama. Korea Utara kemudian membantah tafsiran Korea Selatan dan menegaskan bahwa pernyataan mereka bukan bentuk ajakan berdamai. Seorang pejabat senior Pyongyang menyatakan bahwa Korea Selatan tetap dipandang sebagai musuh utama, dan sikap tersebut tidak akan berubah hanya karena adanya kata-kata penyesalan atau gestur diplomatik.

Tidak lama setelah peluncuran pertama, militer Korea Selatan kembali melaporkan adanya rudal balistik tambahan yang ditembakkan Korea Utara. Meski jarak tempuhnya belum dipastikan, otoritas Japan melalui Penjaga Pantai Jepang menyebut proyektil itu kemungkinan telah jatuh ke laut. Dalam menanggapi situasi tersebut, Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan langsung menggelar rapat darurat dan mendesak Korea Utara menghentikan tindakan yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Akar persoalan ini bermula dari pengakuan Lee Jae Myung mengenai keterlibatan aparat negara dalam insiden drone yang terjadi pada awal tahun 2026. Sebelumnya, pemerintah Seoul sempat menyebut drone tersebut kemungkinan dioperasikan oleh pihak sipil. Namun, pengakuan terbaru itu justru memicu respons keras dari Pyongyang.

Memanasnya kembali hubungan Korea Selatan dan Korea Utara menunjukkan bahwa stabilitas di Semenanjung Korea masih sangat rapuh. Insiden drone yang awalnya dianggap dapat diselesaikan lewat jalur diplomasi justru berkembang menjadi ketegangan militer terbuka. Jika kedua pihak tidak segera menahan diri dan membuka ruang dialog, situasi ini berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas serta mengganggu keamanan kawasan Asia Timur dan dunia.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!