Pemanfaatan teknologi drone dan pemetaan dalam penelitian arkeologi kembali membuka tabir sejarah dunia kuno. Para arkeolog dari University of Konstanz yang dipimpin oleh Stefan Hauser, berhasil mengidentifikasi Alexandria, kota pelabuhan besar yang diyakini didirikan oleh Alexander the Great di wilayah selatan Irak. Penemuan ini menjadi tonggak penting karena selama berabad-abad kota tersebut hanya dikenal melalui catatan sejarah klasik tanpa bukti fisik yang pasti.
Berdasarkan laporan Earth.com, citra udara yang diambil melalui drone memperlihatkan pola benteng besar di kawasan Jebel Khayyaber, dengan dinding kota yang masih menjulang di atas dataran dan membentuk batas ruang yang sangat jelas. Pola ini memperlihatkan struktur kota yang dirancang secara sistematis, bukan tumbuh secara acak seperti permukiman biasa.
Lebih jauh, pemetaan dari udara menunjukkan jaringan jalan dan blok-blok kawasan yang masih terbaca di bawah lapisan tanah dan pasir. Pola jalan yang memanjang sejajar dengan tembok kota mengindikasikan adanya master plan urban khas kota perdagangan Helenistik. Temuan ini diperkuat oleh pemindaian magnetik bawah tanah menggunakan magnetometer sesium yang berhasil mengungkap keberadaan dinding tersembunyi, jalur lalu lintas internal, area permukiman, kawasan kuil, bengkel produksi, hingga kompleks istana.
