Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Sudan Citra Satelit Ungkap Pembantaian Massal di Darfur...
Sudan

Citra Satelit Ungkap Pembantaian Massal di Darfur setelah El Fasher Jatuh ke RSF

Citra Satelit Ungkap Pembantaian Massal di Darfur setelah El Fasher Jatuh ke RSF

Kota El Fasher, ibu kota Provinsi Darfur Utara, kini menjadi simbol penderitaan baru di tengah konflik panjang Sudan. Setelah lebih dari satu tahun dikepung, kota yang selama ini menjadi benteng terakhir militer pemerintah Sudan akhirnya jatuh ke tangan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada akhir Oktober 2025. Di balik kemenangan militer itu, citra satelit justru mengungkap sisi paling kelam dari konflik, yaitu pembantaian massal dan dugaan pembersihan etnis yang terjadi terhadap warga sipil.

Citra Satelit Mengungkap Fakta Mengerikan

Temuan terbaru dari Humanitarian Research Lab (HRL) di Yale School of Public Health menunjukkan bukti visual yang mengejutkan. Melalui analisis citra satelit resolusi tinggi, tim peneliti mengidentifikasi lebih dari 30 titik yang menunjukkan pola konsisten dengan keberadaan tubuh manusia serta perubahan warna tanah menjadi kemerahan. Itu menjadi indikasi adanya darah atau kuburan massal baru.

Dari laporan terbaru HRL, dapat disimpulkan bahwa pola pergerakan kendaraan bersenjata, posisi formasi pasukan, hingga jejak kehancuran bangunan, semua menunjukkan operasi terencana yang menargetkan warga sipil. Lembaga tersebut menilai, tindakan RSF di El Fasher bukan sekadar bentrokan bersenjata, melainkan operasi “pembersihan” sistematis terhadap kelompok etnis tertentu.

Gambar 1

Laporan HRL mengindikasikan bahwa kekerasan paling parah terjadi di lingkungan yang dihuni komunitas non-Arab, seperti Fur, Zaghawa, dan Berti. Banyak warga laki-laki dilaporkan dieksekusi secara singkat, sementara perempuan dan anak-anak menjadi korban kekerasan seksual dan penjarahan. Beberapa saksi yang berhasil melarikan diri menggambarkan pasukan RSF melakukan “penyisiran rumah ke rumah”, menembak siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan tentara pemerintah (SAF) atau berasal dari etnis yang dianggap lawan.

Gambar 2

Dalam salah satu laporan lapangan, disebutkan pula bahwa komunikasi di dalam kota terputus total. Jaringan internet dan sambungan telepon dihentikan, membuat verifikasi independen sulit dilakukan. Namun, bukti visual dari satelit, disertai laporan pengungsi yang berhasil keluar dari kota, memperkuat dugaan adanya pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia.

Kejatuhan El Fasher menandai titik balik dalam konflik Sudan. Kota ini adalah satu-satunya ibu kota provinsi di Darfur yang sebelumnya masih dikuasai oleh militer pemerintah. Setelah RSF berhasil merebutnya, kelompok ini kini mengontrol lima ibu kota negara bagian di kawasan Darfur, memperkuat cengkeramannya di wilayah barat Sudan.

Dilansir dari Kompas.com, akibat pertempuran dan pembunuhan massal yang terjadi setelah pengambilalihan kota, lebih dari 65.000 warga dilaporkan mengungsi dalam hitungan hari. Sebagian besar melarikan diri ke kota Tawila dan desa-desa sekitar yang kini kewalahan menampung pengungsi baru. Banyak keluarga terpisah, sementara akses bantuan kemanusiaan hampir mustahil karena jalur darat dan udara dikuasai oleh pasukan RSF.

PBB serta sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional mengeluarkan kecaman keras terhadap situasi di El Fasher. Mereka menuntut agar RSF membuka akses bagi lembaga kemanusiaan dan mengizinkan penyelidikan independen. Beberapa analis memperingatkan bahwa jika kekerasan di El Fasher tidak segera dihentikan, Darfur berpotensi kembali menjadi episentrum genosida seperti dua dekade lalu, ketika lebih dari 300.000 orang tewas dalam konflik serupa.

Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda gencatan senjata atau investigasi lapangan yang benar-benar dapat dilaksanakan. Dunia internasional tampak terbagi dalam merespons krisis ini. Sebagian menekan melalui jalur diplomasi, sementara lainnya hanya mengeluarkan pernyataan keprihatinan tanpa tindakan nyata.

Citra satelit kini telah menjadi saksi bisu kejahatan yang terjadi di El Fasher. Dari langit, dunia melihat pola kehancuran, kobaran api, dan bayangan tubuh-tubuh yang terbaring di tanah. Namun di bumi, suara mereka yang tertinggal di Darfur masih terbungkam oleh senjata dan ketakutan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!