Tingginya risiko kecelakaan serta perubahan cuaca yang sulit diprediksi mengakibatkan aktivitas penangkapan ikan di laut menuntut dukungan teknologi yang mampu memberikan rasa aman bagi pelaku usaha perikanan. Kondisi ini juga dirasakan oleh para pengusaha perikanan tangkap yang beroperasi dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Seiring waktu, kesadaran akan pentingnya sistem pemantauan kapal berbasis satelit mulai tumbuh, terutama setelah berbagai peristiwa di laut menunjukkan bahwa ketiadaan informasi posisi kapal dapat berakibat fatal.
Kesadaran tersebut tercermin dari meningkatnya penerimaan terhadap penggunaan Vessel Monitoring System (VMS) di kalangan pelaku usaha perikanan Muara Angke. Perangkat yang sebelumnya sering dipandang sebagai beban biaya dan administrasi kini mulai dipahami sebagai alat pendukung keselamatan dan kepastian operasional. Pergeseran pandangan ini muncul karena pelaku usaha kian menyadari bahwa risiko melaut tidak hanya berkaitan dengan hasil tangkapan, tetapi juga keselamatan kapal dan awak yang berada di dalamnya.
Secara sederhana, VMS bekerja dengan memanfaatkan satelit untuk mengirimkan data posisi kapal secara berkala. Informasi ini kemudian ditampilkan dalam bentuk peta digital yang menunjukkan pergerakan kapal dari waktu ke waktu. Data tersebut sangat berguna untuk memahami jalur pelayaran, lokasi operasional, serta area laut yang berpotensi rawan kecelakaan. Bagi kawasan dengan aktivitas kapal yang padat, seperti Muara Angke, pemetaan pergerakan kapal ini membantu mengurangi risiko kehilangan kapal dan mempercepat penanganan jika terjadi keadaan darurat.
Pengalaman di lapangan turut memengaruhi perubahan sikap pelaku usaha. Perwakilan pengusaha perikanan Muara Angke, Nasirin, menyampaikan bahwa pada awalnya banyak pihak menolak pemasangan VMS karena dianggap tidak memberikan manfaat langsung bagi usaha. Namun, setelah terjadinya sejumlah kecelakaan kapal di laut, pandangan tersebut mulai bergeser. Kejadian-kejadian itu memperlihatkan bahwa tanpa informasi lokasi yang jelas, proses pencarian dan penyelamatan menjadi lebih lambat dan berisiko menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Pandangan ini diperkuat oleh pelaku usaha lainnya, Nunung, yang menilai bahwa VMS memudahkan pemantauan posisi kapal dan membantu penanganan saat terjadi kondisi darurat. Dengan adanya titik lokasi yang akurat, bantuan dapat diarahkan secara lebih cepat dan tepat. Meski demikian, pelaku usaha tetap berharap agar penerapan VMS diiringi dengan penyederhanaan prosedur administrasi agar tidak menghambat kegiatan operasional sehari-hari.
Perubahan sikap tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah melalui Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dalam sebuah keterangan resmi. Pemerintah menilai VMS bukan hanya berfungsi sebagai alat pengawasan, melainkan juga sebagai sarana perlindungan bagi kapal dan awaknya saat melaut. Selain mendukung keselamatan, sistem ini juga menjadi bagian dari upaya penataan sektor perikanan melalui kebijakan Penangkapan Ikan Terukur.
Secara keseluruhan, meningkatnya kesadaran pelaku usaha perikanan Muara Angke terhadap pemanfaatan VMS menjadi sinyal positif bagi perbaikan tata kelola perikanan nasional. Dengan dukungan teknologi berbasis lokasi yang mudah dipahami, keselamatan pelayaran, efisiensi usaha, dan keberlanjutan sumber daya laut diharapkan dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.