Genderang perang terhadap ikan sapu-sapu resmi ditabuh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menandai babak baru dalam upaya pemulihan ekosistem sungai perkotaan. Langkah besar ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari inisiatif Arief Kamarudin, seorang pegiat lingkungan sekaligus kreator konten yang konsisten melakukan perburuan ikan sapu-sapu.
Keresahan yang ia suarakan melalui berbagai konten sejak 2025 perlahan membangun kesadaran publik, mengubah isu yang semula dianggap sepele menjadi perhatian kolektif masyarakat luas. Gelombang kesadaran ini kemudian menjalar hingga ke tingkat kebijakan, mendorong Pemerintah DKI Jakarta di bawah arahan Gubernur Pramono Anung untuk mengambil langkah nyata melalui “Operasi Tangkap Ikan Sapu-Sapu Serentak” pada Jumat, 17 April 2026.
Operasi tersebut menjadi yang terbesar dan paling terkoordinasi dalam sejarah penanganan spesies invasif di ibu kota Jakarta, melibatkan berbagai unsur petugas di lima wilayah kota administratif. Penangkapan difokuskan pada titik-titik krusial, seperti Kali Cideng, Pintu Air Setu Babakan, hingga Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung. Dilansir dari detikNews, dalam waktu satu hari, sekitar 6,98 ton atau hampir 7 ton ikan sapu-sapu, setara dengan 68.800 ekor, berhasil diangkat dari aliran sungai. Skala operasi ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam merespons ancaman ekologis yang selama ini berkembang dibalik permukaan air.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat pemerintah DKI Jakarta sampai harus menyatakan “perang” terhadap ikan sapu-sapu?
1. Bersifat Invasif dan Mengancam Ikan Endemik Asli Sungai Ciliwung
Salah satu alasan utama Pemerintah DKI Jakarta menyatakan perang terhadap ikan sapu-sapu adalah sifatnya yang invasif dan mengancam keberlangsungan ikan endemik di Sungai Ciliwung. Ikan ini bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan, sehingga ketika masuk ke ekosistem sungai Jakarta mereka berkembang tanpa kendali karena tidak memiliki predator alami. Kondisi ini membuat populasinya meningkat pesat dan mendominasi perairan.
Dampaknya tidak hanya pada jumlah, tetapi juga pada keseimbangan ekosistem. Ikan sapu-sapu dikenal kerap memakan telur ikan lain, yang secara langsung menghambat proses regenerasi spesies lokal, seperti ikan gabus dan betok. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan penurunan drastis populasi ikan asli. Selain itu, sifatnya yang agresif dalam mencari makan membuat ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi di dasar sungai. Akibatnya, ikan lokal kesulitan bertahan hidup sehingga keanekaragaman hayati di sungai Jakarta terus mengalami degradasi.
2. Kerusakan Infrastruktur Sungai
Alasan kedua yang melatarbelakangi langkah tegas pemerintah adalah dampak serius ikan sapu-sapu terhadap infrastruktur sungai, terutama di sepanjang Sungai Ciliwung. Ikan ini memiliki kebiasaan unik sekaligus merusak, yakni membuat lubang-lubang pada dinding tanah atau bantaran sungai sebagai tempat berlindung dan berkembang biak. Dalam jumlah kecil, aktivitas ini mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi ketika populasinya meledak, ribuan lubang terbentuk dan secara perlahan menggerus kekuatan struktur tanah di tepian sungai.
Kondisi tersebut menyebabkan bantaran menjadi rapuh dan keropos sehingga mudah tergerus arus air, terutama saat debit sungai meningkat. Dampaknya bisa berujung pada erosi yang makin meluas hingga memicu longsor, khususnya pada tanggul yang belum diperkuat dengan beton. Jika dibiarkan, kerusakan ini tidak hanya mengancam stabilitas ekosistem sungai, tetapi juga berpotensi membahayakan permukiman warga di sekitarnya serta meningkatkan risiko bencana lingkungan di wilayah perkotaan.
3. Indikator Buruknya Kualitas Air
Dominasi ikan sapu-sapu di berbagai aliran sungai Jakarta bukan sekadar persoalan jumlah, melainkan juga menjadi indikator kuat memburuknya kualitas air. Spesies ini dikenal sangat adaptif dan mampu bertahan hidup di kondisi ekstrem, termasuk perairan dengan kadar oksigen terlarut yang sangat rendah atau bahkan mendekati anoksik, situasi yang umumnya mematikan bagi sebagian besar ikan lain. Ketika ikan sapu-sapu berkembang pesat dan mendominasi, hal itu menandakan bahwa ekosistem sungai telah mengalami tekanan pencemaran yang serius, baik dari limbah domestik maupun aktivitas perkotaan lainnya.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa sungai tidak lagi berada dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, penertiban populasi ikan sapu-sapu bukan hanya soal pengendalian spesies invasif, melainkan juga bagian dari upaya lebih besar untuk memulihkan kualitas air. Dengan membaiknya kondisi perairan, diharapkan ikan-ikan konsumsi yang lebih sensitif terhadap lingkungan dapat kembali hidup sehingga ekosistem sungai menjadi lebih seimbang dan produktif.
4. Ancaman Kesehatan Masyarakat
Ancaman kesehatan masyarakat menjadi alasan paling krusial di balik langkah tegas pemerintah dalam menekan populasi ikan sapu-sapu. Ikan ini dikenal sebagai “penyaring” alami yang sangat tangguh, mampu bertahan hidup di perairan dengan tingkat pencemaran tinggi, seperti Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan. Ketahanannya justru membuatnya berbahaya karena tubuh ikan sapu-sapu dapat menyerap dan mengakumulasi berbagai logam berat beracun, seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang berasal dari limbah industri di dasar sungai.
Masalah menjadi makin serius ketika ikan ini ditangkap oleh oknum tertentu untuk diolah menjadi makanan murah, seperti siomay atau cuanki, tanpa memperhatikan risiko kesehatannya. Konsumsi ikan yang telah terkontaminasi logam berat dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit serius, mulai dari kerusakan organ hingga kanker. Oleh karena itu, pengendalian ikan sapu-sapu tidak hanya penting dari sisi lingkungan, tetapi juga menjadi langkah preventif untuk melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman tersembunyi.
Kesadaran Lingkungan Jadi Kunci Pemulihan Sungai
Pada akhirnya, persoalan utama bukan semata-mata terletak pada keberadaan ikan sapu-sapu, melainkan pada rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung. Selama bertahun-tahun, kebiasaan membuang sampah dan limbah domestik ke aliran sungai telah menciptakan lingkungan yang tercemar, sekaligus membuka ruang bagi spesies invasif untuk berkembang pesat tanpa kendali. Ikan sapu-sapu bukanlah akar masalah, melainkan indikator dari kerusakan yang lebih dalam.
Kehadirannya justru mempercepat degradasi ekosistem yang sudah rapuh, mulai dari menurunnya kualitas air hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, langkah pemerintah melalui operasi penertiban harus dipahami sebagai titik awal perubahan. Upaya ini perlu diiringi peningkatan kesadaran kolektif masyarakat serta kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan, agar sungai dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya, sebagai sumber kehidupan yang sehat, bersih, dan berdaya dukung bagi lingkungan perkotaan.