Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Keamanan Demi Hemat BBM, TNI AL Gunakan Drone dan KSOT untu...
Keamanan

Demi Hemat BBM, TNI AL Gunakan Drone dan KSOT untuk Patroli Laut

Demi Hemat BBM, TNI AL Gunakan Drone dan KSOT untuk Patroli Laut

Di tengah tantangan luasnya wilayah laut Indonesia dan meningkatnya kebutuhan efisiensi energi, TNI Angkatan Laut mulai mengubah pendekatan patroli maritim dengan mengintegrasikan teknologi dan sumber energi alternatif. Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Muhammad Ali, menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar minyak (BBM) akan ditekan melalui pemanfaatan drone dan kapal selam otonom (KSOT), tanpa mengurangi efektivitas pengawasan laut.

Dilansir dari Antara, Ali menyebutkan bahwa drone menjadi instrumen penting untuk memantau permukaan laut secara luas dan real-time, terutama di wilayah rawan yang sulit dijangkau kapal patroli. Sementara itu, KSOT berfungsi sebagai sistem pengindraan bawah laut yang mampu mengumpulkan data strategis, seperti kondisi batimetri, aktivitas kapal asing, hingga potensi ancaman tersembunyi. Pemanfaatan kedua teknologi ini dinilai sangat efektif dan efisien karena mampu memperluas cakupan pengawasan sekaligus mengurangi konsumsi BBM. Dengan demikian, peran kapal perang Republik Indonesia (KRI) tetap optimal, tetapi lebih fokus pada operasi strategis yang membutuhkan kehadiran langsung.

Demi Hemat BBM, TNI AL Gunakan Drone dan KSOT untuk Patroli Laut - Gambar 1
Kapal selam otonom

Sejalan dengan itu, TNI AL juga mendorong optimalisasi alat utama sistem senjata (alutsista) berbasis tenaga listrik sebagai bagian dari efisiensi energi. Drone dan KSOT menjadi representasi dari sistem pertahanan modern yang tidak hanya hemat bahan bakar, tetapi juga mampu meningkatkan akurasi data spasial dan kecepatan respons terhadap dinamika keamanan laut. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana integrasi teknologi dapat memperkuat kontrol terhadap wilayah maritim tanpa menambah beban operasional.

Melalui kombinasi teknologi tanpa awak dan inovasi bahan bakar, TNI AL memastikan bahwa intensitas patroli laut tidak akan berkurang. Sebaliknya, pendekatan ini justru memperkuat sistem pengawasan berbasis geospasial yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!