Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai menjajaki terobosan baru dalam pengembangan transportasi publik dengan menggandeng Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste guna membangun sistem kereta api tanpa rel sebagai solusi konektivitas menuju Bantul. Dilansir dari Harian Jogja, langkah ini muncul dari kebutuhan akan moda transportasi yang lebih adaptif terhadap kondisi tata ruang wilayah, terutama setelah hasil kajian selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa reaktivasi jalur rel lama ke arah Bantul sulit direalisasikan.
Jalur historis yang sebelumnya pernah menjadi koridor transportasi kini banyak tertutup bangunan permanen, kawasan permukiman, hingga pusat aktivitas ekonomi yang berkembang pesat di wilayah selatan Kota Yogyakarta. Kondisi tersebut membuat pembangunan rel konvensional dinilai tidak lagi efisien karena berpotensi menimbulkan persoalan pembebasan lahan, biaya konstruksi tinggi, serta gangguan terhadap struktur ruang kota yang telah terbentuk.
Sebagai alternatif, konsep yang tengah dikembangkan adalah moda kereta yang tetap mengusung sistem layanan layaknya transportasi massal berbasis rel, namun dapat melaju di atas jalan aspal seperti bus modern. Solusi ini dinilai lebih realistis karena memanfaatkan koridor jalan eksisting yang telah menghubungkan pusat Kota Yogyakarta dengan wilayah Bantul sehingga tidak memerlukan pembangunan jalur rel baru.
Pendekatan ini sangat relevan dengan pola pertumbuhan kawasan aglomerasi Yogyakarta–Bantul yang menunjukkan peningkatan mobilitas komuter dari wilayah pinggiran menuju pusat kota. Arus pergerakan penduduk yang makin tinggi menuntut sistem transportasi yang fleksibel, rendah emisi, dan mampu menjangkau kawasan berkembang tanpa merombak struktur ruang yang ada.
Kerja sama dengan Inggris juga diarahkan pada pengembangan transportasi perkotaan rendah karbon. Pemda DIY mendorong digitalisasi serta elektrifikasi moda tradisional, seperti becak dan andong, agar tetap terintegrasi dalam sistem mobilitas modern, terutama untuk mendukung konektivitas first mile dan last mile di kawasan wisata, pusat budaya, dan area permukiman padat.
Di sisi lain, kawasan Stasiun Tugu diproyeksikan menjadi simpul utama pengembangan melalui konsep transit oriented development (TOD), di mana stasiun tidak hanya berfungsi sebagai titik transit, tetapi juga terhubung dengan kawasan bisnis, perkantoran, hingga hunian. Seluruh pengembangan ini tetap mempertimbangkan aspek heritage kawasan sehingga nilai historis Stasiun Tugu dan sekitarnya tetap terjaga. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Inggris, proyek ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi transformasi sistem transportasi Yogyakarta menuju kota yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Baca juga: Tangerang Kebut Pembangunan Transit Oriented Development, Apa Itu?
