Afrika saat ini tengah menghadapi tantangan keamanan pangan yang makin kompleks akibat perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, degradasi lahan, dan ketimpangan produktivitas pertanian antarwilayah. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi geospasial menjadi instrumen strategis untuk membaca pola keruangan produksi pangan, kerentanan wilayah, serta distribusi sumber daya secara lebih akurat. Analisis geospasial memungkinkan pengambilan kebijakan berbasis lokasi yang tidak lagi bersifat umum, tetapi disesuaikan dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi tiap wilayah sehingga upaya peningkatan ketahanan pangan dapat dilakukan secara lebih presisi dan berkelanjutan.
Laporan yang disusun oleh AKADEMIYA2063 menunjukkan bahwa Afrika memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi aktor utama dalam inovasi agrifood global. Pendekatan geospasial berperan penting dalam integrasi kecerdasan buatan, sistem informasi geografis, dan data pengindraan jauh untuk memetakan kesenjangan hasil panen, memantau dinamika iklim, serta memprediksi risiko gagal panen. Dengan basis data spasial yang kuat, negara-negara Afrika dapat merancang intervensi pertanian yang lebih tepat sasaran, sekaligus berkontribusi pada agenda global terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi pertanian, seperti irigasi skala kecil, pemanenan air, dan sistem produksi hemat sumber daya, menjadi makin efektif ketika dikombinasikan dengan analisis geospasial. Pemetaan ketersediaan air, jenis tanah, dan topografi memungkinkan penempatan infrastruktur pertanian di lokasi yang paling optimal. Inovasi lain, seperti budidaya serangga, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah organik, serta manajemen nutrien terpadu, juga dapat dianalisis secara spasial untuk mengidentifikasi wilayah dengan potensi ekonomi tertinggi, khususnya bagi pemuda dan pengusaha kecil yang bergantung pada sumber daya lokal.
Sistem akuaponik berkembang sebagai solusi pertanian terpadu yang relevan di wilayah dengan keterbatasan lahan dan air. Melalui pendekatan geospasial, sistem ini dapat dikembangkan di kawasan perkotaan, wilayah semi-kering, atau daerah dengan tekanan sumber daya tinggi. Analisis spasial membantu mengoptimalkan efisiensi air, memperkuat rantai pasok pangan lokal, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber protein terjangkau, sekaligus memperkuat ketahanan mata pencaharian berbasis wilayah.
Menurut laporan Down To Earth, pengenalan indeks, seperti Untapped Potential Index, menegaskan pentingnya analisis spasial dalam mengidentifikasi negara dan wilayah dengan kebutuhan tinggi, tetapi memiliki tingkat adopsi teknologi yang masih rendah. Negara-negara dengan kesenjangan hasil panen besar dan tingkat kelaparan tinggi, tetapi memiliki kesiapan infrastruktur dasar, dipandang sebagai prioritas transformasi berbasis AI dan geospasial. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan pangan di Afrika bersifat keruangan dan membutuhkan solusi yang kontekstual. Keberhasilan transformasi tersebut sangat ditentukan oleh tata kelola data, pembiayaan, dan kapasitas kelembagaan, yang momentumnya diperkuat oleh berlakunya Kampala Declaration pada awal 2026, sebagai landasan menuju sistem agrifood Afrika yang lebih tangguh dan inklusif.