Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kemitraan dengan perusahaan teknologi asal Jepang, CAST Inc., untuk memperkuat pengembangan teknologi sensor di sektor energi dan industri manufaktur. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring riset internasional sekaligus mendorong transformasi teknologi berbasis kebutuhan industri masa depan. Berdasarkan keterangan resmi BRIN, fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan sensor cerdas yang mampu meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem energi, baik pada sektor bahan bakar fosil maupun energi baru terbarukan (EBT). Pemanfaatan sensor ini memungkinkan pengumpulan data berbasis lokasi secara real time sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi di berbagai wilayah operasional energi.
Pendekatan geospasial menjadi elemen kunci dalam implementasi teknologi ini, terutama karena infrastruktur energi, seperti PLTGU, PLTP geothermal, dan sistem hidrogen tersebar di wilayah dengan karakteristik geografis yang beragam. Integrasi sensor dengan sistem pemetaan spasial memungkinkan pemantauan performa energi secara lebih akurat, termasuk dalam mendeteksi potensi gangguan operasional dan risiko lingkungan sejak dini.
Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Aam Muharam dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN bersama CEO CAST Inc., Kei Nakatsuma, di Kawasan Sains dan Teknologi B. J. Habibie, Serpong. Koordinasi teknis akan dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi Konversi Energi di bawah Tata Sutardi. Dalam implementasinya, kerja sama ini juga melibatkan aktor industri strategis, seperti PLN Nusantara Power dan Pertamina Geothermal Energy, sehingga menciptakan sinergi antara riset dan kebutuhan industri secara langsung. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan.
Implementasi kerja sama akan dilakukan melalui riset bersama, pertukaran data dan informasi ilmiah, pemanfaatan fasilitas riset secara kolaboratif, serta penyelenggaraan kegiatan ilmiah seperti seminar dan lokakarya. Skema ini tidak hanya mempercepat inovasi teknologi, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi sensor dan analisis berbasis data spasial. Nota kesepahaman yang berlaku selama tiga tahun ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemitraan riset antara Indonesia dan Jepang. Kerja sama ini membuka peluang besar bagi pengembangan inovasi yang berdampak nyata terhadap penguatan infrastruktur energi dan kesiapan menghadapi tantangan transisi energi
