Fenomena el nino yang diprediksi mencapai intensitas tinggi pada 2026, atau kerap disebut “El Nino Godzilla”, menghadirkan dinamika iklim yang berdampak luas dan tidak merata di Indonesia. Wilayah selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan, sementara kawasan lain menghadapi anomali curah hujan yang sulit diprediksi. Variasi ini menciptakan tekanan lingkungan berupa peningkatan suhu permukaan dan ketidakstabilan cuaca yang secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, seperti anak-anak, yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya.
Dalam menanggapi hal tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa anak-anak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perubahan cuaca ekstrem. Dikutip dari Media Indonesia, Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan bahwa adaptasi terhadap lingkungan dengan suhu tinggi ataupun curah hujan ekstrem membutuhkan energi besar sehingga anak-anak cenderung lebih cepat mengalami kelelahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam wilayah dengan paparan panas tinggi atau fluktuasi cuaca tajam, tubuh anak menghadapi tekanan fisiologis yang lebih berat sehingga aktivitas di luar ruangan berisiko memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Sebagai langkah mitigasi, anak-anak dianjurkan untuk lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan guna mengurangi paparan langsung terhadap kondisi ekstrem. Dalam skala mikro, rumah menjadi ruang adaptasi utama yang memungkinkan pengendalian suhu, kualitas udara, serta intensitas aktivitas fisik anak. Strategi ini menjadi makin penting di kawasan perkotaan yang mengalami fenomena pulau panas, di mana suhu lingkungan cenderung lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Di sisi lain, penguatan daya tahan tubuh menjadi aspek penting dalam merespons perubahan iklim yang dinamis. IDAI menekankan pentingnya asupan nutrisi seimbang, khususnya protein hewani, untuk menjaga kondisi fisik anak tetap bugar. Dalam situasi cuaca ekstrem, imunitas yang kuat menjadi benteng utama dalam mencegah berbagai penyakit, seperti dehidrasi, infeksi saluran pernapasan, hingga gangguan kesehatan lainnya.
Kombinasi antara adaptasi lingkungan dan penguatan biologis ini menjadi pendekatan komprehensif dalam menekan risiko kesehatan anak. Dengan demikian, mereka tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal di tengah tekanan iklim yang kian kompleks.
