Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home D. I. Yogyakarta Peluang El Nino Capai 60%, BMKG Minta Masyarakat Y...
D. I. Yogyakarta

Peluang El Nino Capai 60%, BMKG Minta Masyarakat Yogyakarta Waspadai Hal Berikut

Peluang El Nino Capai 60%, BMKG Minta Masyarakat Yogyakarta Waspadai Hal Berikut

Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta meningkatkan kewaspadaan seiring berakhirnya musim hujan tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya ancaman ganda, mulai dari cuaca ekstrem di masa pancaroba hingga potensi kemarau yang lebih kering akibat fenomena el nino.

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi perubahan cuaca yang mendadak. Masa transisi atau pancaroba biasanya ditandai dengan fenomena alam yang destruktif dalam durasi singkat.

"BMKG meminta pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat untuk lebih waspada pada akhir musim hujan ini. Masa ini ditandai dengan perubahan cuaca yang mendadak, seperti hujan lebat yang dibarengi angin kencang dan petir," ujar Reni di Yogyakarta, Kamis, 2 April 2026.

Langkah mitigasi fisik menjadi prioritas utama untuk menekan risiko kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa. Dilansir dari ANTARA, BMKG menyarankan agar dilakukan pembersihan saluran air guna mencegah genangan serta pemangkasan dahan pohon yang berisiko tumbang akibat terpaan angin kencang.

Selain itu, ketahanan struktur bangunan juga menjadi perhatian. "Pastikan struktur bangunan dan papan baliho dalam kondisi kuat untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan ini," tambah Reni.

Bayang-Bayang El Nino dan Kekeringan Ekstrem

Memasuki tengah tahun, tantangan iklim diprediksi akan makin berat. BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan dibarengi dengan fenomena el nino dengan intensitas lemah hingga moderat. Kondisi ini diprediksi membuat musim kemarau tahun ini jauh lebih kering dibandingkan rata-rata biasanya.

Berdasarkan data klimatologis, peluang terjadinya el nino mencapai 50 hingga 60 persen. "Fenomena el nino diperkirakan mulai muncul pada Juli hingga akhir tahun 2026," jelas Reni.

Masyarakat juga diminta bersiap menghadapi puncak kekeringan yang diprediksi terjadi pada rentang Juli hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diperkirakan akan berada di bawah normal, yang secara otomatis meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di berbagai wilayah DIY.

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak. Untuk menghindari risiko gagal panen, para petani diimbau untuk segera menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air yang terbatas.

Penghematan dan efisiensi sumber daya air menjadi kunci utama bagi wilayah-wilayah yang secara historis memang rawan kekeringan. "Untuk wilayah yang rawan kekeringan meteorologis, kami harap segera mengambil langkah antisipasi melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," tegas Reni.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!