Menjelang masa libur Natal dan Tahun Baru, Kota Surakarta kembali bersiap menghadapi lonjakan mobilitas warga. Tahun ini, strategi pengamanan arus lalu lintas tidak lagi mengandalkan patroli manual semata, melainkan juga diperkuat oleh ekosistem digital berbasis spasial yang terintegrasi dalam Solo Smart City.
Satlantas Polresta Surakarta menggandeng lima pilar Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) untuk memperkuat Smart Road Safety Policing. Pilar itu selama ini adalah sistem yang menjadi tulang punggung pemetaan risiko lalu lintas secara real time.
Kasatlantas Polresta Surakarta, Kompol Agung Yudiawan, menegaskan bahwa platform ini kini menjadi simpul utama pertukaran data antarlembaga. Dengan alur data yang mengalir setiap waktu, petugas dapat memonitor potensi kemacetan, titik rawan kecelakaan, aktivitas masyarakat, hingga kerawanan knalpot brong yang biasanya meningkat jelang libur panjang.
“Kami dari Satlantas berkolaborasi menciptakan keselamatan berlalu lintas secara bersama-sama. Wadah ini mengajak lima pilar untuk memberikan bahan dan data sehingga kita bisa mengetahui apa yang terjadi di lapangan,” jelasnya, dikutip dari laman resmi Korlantas Polri.
Pada masa Nataru, arus data yang masuk akan dimanfaatkan untuk memetakan jalur padat, area wisata kuliner, ruas rawan laka, lokasi perbaikan jalan, serta titik keramaian berskala besar. Informasi tersebut kemudian diolah menjadi rekomendasi yang akan disebarkan kepada publik melalui platform Solo Smart City dan kanal media sosial setiap pilar.
“Dengan data yang masuk, kami bisa mengolah dan memberikan rekomendasi kepada masyarakat untuk menghindari jalan-jalan yang macet, dan jalan yang rawan kecelakaan,” tambah Agung.
Inisiasi tersebut ia sampaikan mewakili Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo, seusai rapat terpadu di Gedung TMC, Jumat, 28 November 2025. Agung menyebut integrasi data lintas sektor sebagai keunggulan utama Smart Road Safety Policing. “Sebab seluruh data strategis dari lima pilar dapat dihimpun, dianalisis, dan divisualisasikan pada satu peta digital terintegrasi. Prinsip satu data dan satu peta ini memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat,” ujarnya.
Lima pilar RUNK itu meliputi Safer People, Safer Road, Safer Vehicle, Road Safety Management, dan Post-Crash Response. Seluruhnya berkontribusi dalam sistem geospasial yang mampu menimbang risiko lalu lintas kota secara presisi.
Data pendukung yang dihimpun mencakup rekaman CCTV, laporan publik, kondisi infrastruktur jalan, kelayakan kendaraan, kapasitas fasilitas kesehatan, hingga pola respons kedaruratan. Menurut Agung, sistem ini bekerja bukan hanya sebagai alat pemantau, tetapi sebagai perangkat analisis yang dapat membaca kecenderungan gangguan lalu lintas dan persoalan keselamatan.
“Platform peta geospasial ini bukan sekadar alat monitoring, tetapi menjadi wadah kolaborasi RUNK Kota Solo untuk memprediksi potensi gangguan lalu lintas, memetakan permasalahan keselamatan secara akurat, dan menetapkan prioritas penanganan secara presisi,” tegasnya.
Peran sistem ini juga dirasakan oleh mitra pendukung keselamatan jalan. Perwakilan Jasa Raharja, Andri Joko Rusito, menilai platform tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Dalam tools tersebut masyarakat bisa mengetahui titik kemacetan, event yang digelar, hingga perbaikan jalan. Platform ini bisa dimanfaatkan masyarakat agar nyaman dalam mengambil jalan agar tidak terjebak di jalur kemacetan,” paparnya. Ia menambahkan, kemampuan sistem dalam membaca pola kecelakaan dapat memperkuat langkah pencegahan di lapangan sehingga pengamanan perjalanan selama libur Nataru menjadi lebih terarah dan terukur.
