Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Keamanan Lagi, Sisa Roket Luar Angkasa Tiongkok Jatuh di Pe...
Keamanan

Lagi, Sisa Roket Luar Angkasa Tiongkok Jatuh di Perairan Indonesia

Lagi, Sisa Roket Luar Angkasa Tiongkok Jatuh di Perairan Indonesia

Langit Indonesia kembali memperlihatkan sisi rentannya terhadap ancaman sampah antariksa. Fenomena yang sebelumnya sempat menarik perhatian publik, yakni “space jellyfish” pada 11 April 2026, menjadi pengingat bahwa aktivitas peluncuran roket di luar wilayah Indonesia tetap dapat meninggalkan jejak yang melintasi bahkan berdampak ke ruang udara nasional. Fenomena tersebut diduga kuat berkaitan dengan peluncuran roket Jielong-3 dari Tiongkok, yang lintasannya terlihat dari beberapa wilayah Indonesia.

Terbaru, nelayan di perairan Natuna dan Anambas, Kepulauan Riau, dihebohkan oleh temuan benda asing yang mengapung di laut. Rekaman video dari CNN Indonesia yang beredar memperlihatkan puing berwarna putih dengan kondisi hangus terbakar, serta terdapat penanda berupa bendera Tiongkok pada permukaannya. Secara visual, benda tersebut menyerupai bagian badan pesawat atau komponen roket yang telah mengalami gesekan hebat saat memasuki kembali atmosfer.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari otoritas terkait mengenai identitas pasti benda tersebut. Namun, diskursus di media sosial berkembang cepat dan mengarah pada satu dugaan dominan. Sejumlah pengguna, termasuk akun X @marufins, menyatakan bahwa benda tersebut merupakan bagian dari payload fairing roket Jielong-3 yang diluncurkan pada 11 April 2026. Pendapat ini diperkuat oleh akun X @Ajidarmo yang mengaitkannya dengan komponen serupa pada roket Long March 4C milik China National Space Administration (CNSA).

Baca juga: Lalu Lintas Orbit Kian Padat, Hujan Sampah Antariksa Mengancam Bumi

Secara teknis, payload fairing adalah selubung pelindung yang berfungsi menjaga muatan roket dari tekanan aerodinamis dan panas ekstrem selama fase atmosfer. Ketika roket mencapai lapisan luar atmosfer dan hambatan udara tidak lagi signifikan, komponen ini akan dilepaskan atau di-jettison. Dalam banyak kasus, bagian yang terlepas ini jatuh kembali ke Bumi dan berpotensi menjadi sampah antariksa jika tidak terkendali.

Peristiwa ini bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Sebelumnya, pada 4 April 2026, warga Lampung juga menyaksikan jatuhnya serpihan roket CZ-3B R/B milik Tiongkok yang bahkan sempat mencapai kawasan permukiman. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bahwa Indonesia berada dalam jalur risiko jatuhan debris antariksa, terutama karena posisinya yang berada di sekitar lintasan orbit peluncuran roket. Situasi ini menegaskan urgensi penguatan sistem pemantauan dan mitigasi sampah antariksa di tingkat nasional maupun internasional, agar potensi bahaya terhadap keselamatan wilayah dan masyarakat dapat diminimalkan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!