Dalam geliat penelitian arkeologi modern, Gunung Tangkil tiba-tiba mencuat sebagai wilayah yang menyimpan misteri ribuan tahun dan membuka ruang tafsir baru tentang peradaban purba di Jawa Barat. Penelitian arkeologi terbaru di gunung yang berhutan lebat ini memunculkan dugaan kuat bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu situs megalitik penting yang belum banyak diketahui publik.
Dilansir dari Arkeonews, kajian BRIN bersama Museum Prabu Siliwangi dan peneliti lokal berawal dari temuan fragmen pahatan batu di lereng yang tertutup vegetasi rapat. Analisis awal menunjukkan kesamaan komposisi litik dengan koleksi megalitik museum. Temuan ini dipandang sebagai indikator keterhubungan asal-usul serta bukti bahwa Gunung Tangkil terintegrasi dalam jaringan budaya megalitik Jawa Barat. Hal ini diperkuat oleh jejak menhir di Desa Tugu dan temuan struktur batu di Gunung Karang, yang secara geospasial membentuk rantai lanskap purba pada titik elevasi tertentu dan diduga terkait pola pemukiman kuno, sumber air, serta jalur mobilitas pegunungan.
Kemajuan signifikan diperoleh melalui pemindaian LiDAR pada 16–20 September 2025. Teknologi ini mampu menembus kanopi hutan dan memetakan anomali permukaan sehingga memperlihatkan susunan batu yang terbaca sebagai rancangan ruang buatan. Teridentifikasi empat kluster teras yang masing-masing memuat indikasi aktivitas manusia, yaitu fragmen batu, menhir, sisa jalan batu, susunan menyerupai pola dakon, gundukan batu dengan elemen ritual, hingga formasi batu memanjang dan tegak yang diperkirakan memiliki fungsi simbolik. Selain itu, pola terasering dan jejak jalur kuno menunjukkan adanya rekayasa ruang yang mengikuti kontur geomorfologi. Data ini memberi dasar interpretasi bahwa kawasan tersebut pernah dihuni atau dimanfaatkan secara terencana, bukan hanya menjadi ruang ritual insidental.
Selain struktur megalitik, ratusan pecahan keramik dari abad ke-10 hingga ke-20 yang ditemukan pada survei lapangan sebelumnya memberikan petunjuk adanya interaksi ekonomi jangka panjang, terutama dengan pelayaran maritim Tiongkok. Temuan tersebut memperluas konteks Gunung Tangkil dari ruang seremonial menjadi titik yang mungkin bersinggungan dengan jaringan perdagangan regional.
Kendati demikian, penelitian lanjut terkendala status kawasan konservasi Sukawayana yang membatasi ekskavasi dan intervensi vegetasi sehingga riset masih bertumpu pada survei permukaan dan pemetaan udara. Namun, kondisi yang relatif tidak terganggu justru menjaga integritas arkeologisnya. Minat akademik pun meningkat seiring pandangan bahwa Gunung Tangkil mungkin terhubung dengan pusat megalitik lain di Jawa Barat, sementara tradisi lokal yang masih hidup memperkuat nilai budayanya. Dengan rencana pemetaan drone dan pemindaian lanjutan, Gunung Tangkil berpotensi menjadi situs megalitik baru Indonesia yang mengungkap rekayasa lanskap, jejaring dagang, dan praktik budaya yang telah terselubung selama berabad-abad.