Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home BMKG Tiga Sistem Siklonik Ancam Cuaca Indonesia, BMKG K...
BMKG

Tiga Sistem Siklonik Ancam Cuaca Indonesia, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Tiga Sistem Siklonik Ancam Cuaca Indonesia, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia menyusul terbentuknya tiga sistem siklonik di sekitar kawasan. Satu siklon tropis dan dua bibit siklon kini terpantau aktif dan memberikan dampak tidak langsung terhadap hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi di berbagai perairan Indonesia.

Dilansir dari ANTARA, BMKG melaporkan bahwa Siklon Tropis Nokaen, berdasarkan pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta per Jumat, 16 Januari 2026 berada di Laut Filipina bagian utara Maluku Utara, tepatnya pada posisi 11,2 derajat LU dan 128,9 BT. Siklon yang tumbuh dari Bibit Siklon Tropis 91W yang terbentuk pada 15 Januari pukul 13.00 WIB ini memiliki kecepatan angin maksimum 35 knot atau 65 km/jam, dengan tekanan udara minimum 1000 hPa.

Dalam 24 jam ke depan, BMKG memprediksi Nokaen akan bertahan pada kategori 1 dan bergerak ke arah barat laut, menjauhi wilayah Indonesia. Meski demikian, siklon ini tetap memengaruhi cuaca di Tanah Air. Dampak tidak langsungnya berupa hujan sedang hingga lebat yang diperkirakan terjadi di Gorontalo dan Sulawesi Utara hingga Sabtu, 17 Januari pukul 07.00 WIB. Selain hujan lebat, BMKG juga mencatat potensi gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di perairan berikut.

  • Laut Sulawesi bagian timur

  • Perairan Bitung

  • Perairan Sangihe

  • Laut Maluku

  • Perairan Manokwari bagian utara

  • Perairan Raja Ampat bagian utara

  • Perairan Biak bagian utara

  • Perairan Serui

  • Perairan Kepulauan Talaud

  • Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua

Tidak hanya Siklon Nokaen, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 96S yang berada di koordinat 15,0 derajat LS dan 112,0 BT di Samudra Hindia selatan Jawa Timur. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knot atau 37 km/jam dengan tekanan udara 1002 hPa. BMKG dalam unggahan resminya di Instagram menyebut bahwa Bibit Siklon Tropis 96S memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah Barat Daya menjauhi wilayah Indonesia dalam periode 24 jam ke depan.

Meski peluang berkembangnya rendah, 96S tetap berpotensi menimbulkan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di wilayah berikut.

  • Perairan selatan Jawa Barat hingga selatan Pulau Sumba

  • Selat Bali

  • Selat Lombok

  • Samudra Hindia selatan Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4 meter, dapat muncul di Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah.

Gambar 1

Bibit siklon lain, yakni 97S, terpantau di pesisir utara Australia bagian selatan Teluk Carpentaria. CNN Indonesia melaporkan bahwa siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot atau 28 km/jam dengan tekanan udara minimum 1009 hPa. Peluang 97S berkembang menjadi siklon tropis juga rendah, dengan pergerakan ke arah barat menjauhi Indonesia.

Dampak tidak langsung dari 97S mencakup hujan sedang hingga lebat di Maluku Tenggara dan Papua Selatan, serta gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Laut Sawu dan Samudra Hindia selatan NTB. BMKG juga memperingatkan bahwa bibit siklon 97S dapat memicu gelombang lebih tinggi, 2,5 hingga 4 meter, di wilayah berikut.

  • Laut Banda bagian selatan

  • Perairan Kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar

  • Perairan Kepulauan Kei dan Kepulauan Aru

  • Perairan Kupang

  • Samudra Hindia selatan Nusa tenggara Timur (NTT)

  • Laut Arafuru

BMKG juga mengimbau agar masyarakat pesisir dan pelayaran di wilayah terdampak meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!