Etiopia mulai menjadikan sektor hortikultura sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian tradisional dan industri manufaktur saja. Melalui kebijakan ini, pemerintah Etiopia ingin memanfaatkan potensi pertanian bernilai tinggi, seperti buah, sayur, dan tanaman hias agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
National Horticulture Strategy bersama pemerintah Etiopia menetapkan sejumlah target yang mudah dipahami dampaknya bagi masyarakat. Menurut laporan Fresh Plaza, kontribusi sektor hortikultura terhadap produk domestik bruto ditargetkan naik dari 4,5 persen menjadi 12 persen dalam sepuluh tahun. Selain itu, pendapatan devisa dari ekspor hortikultura diharapkan meningkat dari sekitar US$650 juta menjadi kurang lebih US$3,3 miliar.
Strategi ini juga diarahkan untuk membuka lapangan kerja bagi sekitar dua juta orang, meningkatkan ketersediaan buah dan sayur bagi masyarakat, serta mendukung upaya menjaga lingkungan melalui penyerapan karbon. Untuk mencapai target tersebut, perencanaan berbasis data spasial menjadi penting agar pengembangan sektor berjalan tepat sasaran dan tidak merusak lingkungan.
Dari sisi wilayah, Etiopia memiliki keunggulan berupa kondisi alam yang sangat beragam dengan 18 zona agroekologi. Keberagaman ini memungkinkan berbagai jenis tanaman hortikultura tumbuh dengan baik. Di dataran tinggi, petani dapat menanam anggur, stroberi, dan alpukat, sedangkan di dataran rendah cocok untuk pisang, mangga, dan berbagai sayuran tropis. Produksi banyak terkonsentrasi di wilayah seperti Rift Valley, Sidama, serta sepanjang Awash Basin yang memiliki ketersediaan air relatif stabil. Analisis geospasial membantu memetakan kesesuaian lahan berdasarkan kondisi tanah, iklim, dan air sehingga petani dapat menanam komoditas yang paling sesuai dengan wilayahnya.
Meski potensinya besar, sektor hortikultura masih menghadapi sejumlah kendala. Rantai distribusi yang belum terhubung dengan baik, keterbatasan gudang pendingin, pasokan listrik dan air yang tidak merata, serta akses transportasi ke pelabuhan ekspor menjadi tantangan utama. Pembangunan infrastruktur, seperti jalur rel kereta Etiopia–Djibouti dan fasilitas Cool Port Addis di Mojo Dry Port memang membantu mempercepat pengiriman produk segar, tetapi tetap diperlukan perencanaan spasial yang terintegrasi agar lokasi produksi selaras dengan kapasitas logistik yang tersedia.
Dengan memanfaatkan analisis geospasial secara terpadu, Etiopia dapat menentukan lokasi koridor pertanian, klaster produksi, dan taman hortikultura secara lebih tepat. Pendekatan ini membantu pemerintah dan pelaku usaha mempertimbangkan kondisi iklim, infrastruktur, dan kebutuhan pasar secara bersamaan sehingga pengembangan sektor hortikultura dapat berjalan lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan daya saing pertanian nasional.
