Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Jakarta Susi Pudjiastuti Sarankan Ikan Sapu-Sapu Dimanfaat...
Jakarta

Susi Pudjiastuti Sarankan Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan untuk Pelet dan Pupuk

Susi Pudjiastuti Sarankan Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan untuk Pelet dan Pupuk

Perdebatan mengenai penanganan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung terus bergulir, memunculkan spektrum pandangan yang kian beragam di tengah masyarakat. Di satu sisi, langkah penanggulangan yang dilakukan pemerintah menuai kritik, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menyoroti aspek etika dan pendekatan kebijakan. Di sisi lain, Susi Pudjiastuti hadir dengan perspektif yang lebih berorientasi pada keberlanjutan, menggeser narasi dari pemusnahan menuju pemanfaatan.

Dilansir dari detikNews, menurut Susi, ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama justru menyimpan potensi ekonomi yang belum tergarap secara optimal. Ia menekankan bahwa hasil tangkapan dapat diolah menjadi pelet melalui proses penggilingan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun ternak. Pendekatan ini bukan hanya menawarkan solusi terhadap ledakan populasi spesies invasif, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan.

Gagasan tersebut bahkan meluas ke sektor pertanian. Susi melihat bahwa ikan sapu-sapu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan metode sederhana, seperti mencincang dan menguburkannya di lahan. Selain itu, distribusi hasil tangkapan kepada peternak, termasuk peternak kepiting dan buaya, setelah melalui proses pembekuan, dinilai mampu menciptakan ekosistem pemanfaatan yang terintegrasi. Dengan demikian, pengelolaan lingkungan perkotaan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kebutuhan sektor lain secara berkelanjutan.

Sebelumnya, langkah konkrit penanganan ikan sapu-sapu telah digaungkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Inisiatif ini tidak lahir secara instan, melainkan berangkat dari keresahan yang konsisten disuarakan oleh Arief Kamarudin sejak 2025. Melalui konten-konten yang ia sebarkan, isu ikan sapu-sapu perlahan bertransformasi dari persoalan yang dianggap remeh menjadi perhatian publik yang lebih luas. Kesadaran kolektif inilah yang kemudian mendorong lahirnya kebijakan nyata di tingkat pemerintah.

Di bawah arahan Pramono Anung, Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan “Operasi Tangkap Ikan Sapu-Sapu Serentak” pada 17 April 2026. Operasi ini menjadi tonggak penting dalam penanganan spesies invasif di ibu kota, melibatkan berbagai unsur petugas di lima wilayah administratif. Penangkapan difokuskan pada sejumlah titik krusial, seperti Kali Cideng, Pintu Air Setu Babakan, hingga kawasan Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung. Hasilnya pun tidak kecil. Dalam waktu satu hari, sekitar 6,98 ton atau hampir 7 ton ikan sapu-sapu, setara dengan 68.800 ekor, berhasil diangkat dari aliran sungai.

Baca juga: 4 Alasan Pemerintah DKI Jakarta Nyatakan Perang terhadap Ikan Sapu-Sapu

Hadirnya pro dan kontra di masyarakat terkait perang terhadap ikan sapu-sapu ini harus disikapi sebagai bentuk kesadaran lingkungan yang mulai tumbuh di masyarakat. Perbedaan pandangan tersebut bukanlah hambatan, melainkan ruang dialog yang menandakan bahwa isu ekologis tidak lagi dipandang sebelah mata. Dari tarik-menarik opini inilah, kebijakan yang lebih matang, adaptif, dan berkelanjutan dapat dirumuskan, menggabungkan aspek penanggulangan, pemanfaatan, serta keseimbangan ekosistem. Pada akhirnya, kesadaran kolektif yang terus berkembang ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang lebih bijak antara manusia dan lingkungannya.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!