Masyarakat Kota Bitung, Sulawesi Utara, dikejutkan oleh kemunculan suara gemuruh misterius dari dalam tanah yang terjadi berulang dalam waktu relatif singkat. Fenomena ini terpantau di Kelurahan Madidir Ure dengan pola yang cukup jelas pada 30 Maret dan 1 April 2026. Suara gemuruh terdengar dengan intensitas rendah dan durasi singkat, seolah hanya menjadi gangguan sesaat. Namun, memasuki 4 dan 14 April 2026, karakter fenomena berubah. Intensitas meningkat dan durasi berlangsung lebih lama sehingga memicu kekhawatiran yang meluas di tengah masyarakat.
Untuk menanggapi keresahan tersebut, Badan Geologi segera melakukan investigasi awal untuk mengidentifikasi sumber suara. Pendekatan yang digunakan meliputi wawancara dengan warga terdampak serta pengukuran mikrotremor di lokasi kejadian. Hasil analisis menggunakan metode HVSR menunjukkan bahwa data yang terkumpul belum cukup kuat untuk memastikan penyebab pasti fenomena ini.
Keterangan warga menjadi petunjuk penting dalam analisis awal. Gemuruh dan getaran dilaporkan sangat lokal, tanpa disertai kerusakan pada permukaan tanah ataupun bangunan. Kondisi ini mengarah pada dugaan bahwa sumber energi berasal dari proses bawah permukaan berskala kecil, seperti penyesuaian struktur geologi atau pergerakan fluida dalam pori-pori batuan. Meski demikian, interpretasi ini masih bersifat sementara dan membutuhkan penguatan melalui penelitian lanjutan dengan pendekatan multidisipliner.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi geologi Kota Bitung memang tidak sederhana. Badan Geologi menjelaskan bahwa wilayah ini didominasi oleh batuan gunung api muda berupa endapan lava, lapili, bom, dan abu yang berasal dari aktivitas sejumlah gunung api di sekitarnya. Di Pulau Lembeh, tersingkap batuan vulkanik tersier berkomposisi andesit. Sementara, kawasan pesisir tersusun atas material aluvial dengan komposisi beragam. Kombinasi ini menciptakan struktur bawah permukaan yang heterogen sehingga gelombang getaran dapat berperilaku tidak seragam, dipantulkan, diperkuat, atau justru diredam secara lokal.
Selain itu, pengaruh dua sistem tektonik utama jalur penunjaman Sulawesi Utara dan Sangihe Timur membentuk struktur geologi yang kompleks. Ditambah dengan morfologi wilayah yang bervariasi dari dataran hingga perbukitan, kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya resonansi lokal maupun pelepasan energi dalam skala kecil yang tidak selalu terdeteksi secara konvensional.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Dalam kasus yang masih dalam identifikasi seperti ini, edukasi publik menjadi sangat krusial agar masyarakat memahami bahwa tidak setiap gemuruh bawah tanah berkaitan langsung dengan potensi gempa besar, meskipun tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan yang rasional dan berbasis informasi.
