Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Sains Teknologi Makroalga di Laut Indonesia Punya Potensi Jadi Pil...
Sains Teknologi

Makroalga di Laut Indonesia Punya Potensi Jadi Pilar Bioindustri Biru dan Ketahanan Pangan Nasional

Makroalga di Laut Indonesia Punya Potensi Jadi Pilar Bioindustri Biru dan Ketahanan Pangan Nasional

Potensi sumber daya laut Indonesia sebagai fondasi penting bioindustri masa depan kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap sumber pangan berkelanjutan serta bahan baku industri yang ramah lingkungan. Salah satu sumber daya yang kini mendapat perhatian besar adalah makroalga atau rumput laut. Selama ini, komoditas ini lebih dikenal sebagai hasil budidaya pesisir untuk kebutuhan pangan dan bahan olahan sederhana. Namun, dalam perkembangan riset terkini, makroalga dipandang memiliki nilai strategis yang jauh lebih luas, mencakup sektor pangan, kesehatan, hingga industri biomaterial berbasis sumber daya laut.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Ratih Pangestuti, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Bioteknologi Laut, dalam sidang terbuka pengukuhan profesor riset di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B. J. Habibie BRIN, Jakarta, Rabu, 15 April 2026. Dalam pemaparannya, dilansir dari laman resmi BRIN, ia menegaskan bahwa makroalga menyimpan biomolekul strategis yang berpotensi menjadi pilar utama transformasi bioindustri biru Indonesia, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional di masa depan.

Makroalga di Laut Indonesia Punya Potensi Jadi Pilar Bioindustri Biru dan Ketahanan Pangan Nasional - Gambar 1
Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Bioteknologi Laut, Ratih Pangestuti, dalam sidang terbuka pengukuhan profesor riset di Gedung B. J. Habibie BRIN

Melalui pendekatan bioprospeksi, pemanfaatan makroalga kini tidak lagi berhenti pada tahap eksplorasi sumber daya semata, tetapi telah bergerak menuju proses identifikasi, karakterisasi, dan pengembangan senyawa bioaktif bernilai tinggi. Selain polisakarida, seperti agar, alginat, dan karaginan, yang selama ini telah lama dimanfaatkan dalam industri pangan, makroalga juga diketahui mengandung pigmen alami serta senyawa polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, hingga agen neuroprotektif. Salah satu temuan penting adalah potensi pigmen fukosantin dari makroalga coklat yang menunjukkan aktivitas biologis signifikan sehingga membuka peluang pengembangan bahan baku farmasi dan pangan fungsional berbasis sumber daya laut Indonesia.

Potensi tersebut makin kuat jika dilihat dari kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan tropis dengan garis pantai yang sangat panjang dan habitat pesisir yang mendukung pertumbuhan makroalga secara luas. Sebaran sumber daya ini mencakup perairan Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kekayaan hayati tersebut tercermin dari keberadaan sekitar 900 spesies makroalga, atau hampir 11 persen dari total spesies dunia.

Meski demikian, pemanfaatannya hingga kini masih tergolong terbatas. Dari ratusan spesies yang ada, kurang dari 10 spesies yang dimanfaatkan secara komersial. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang besar untuk optimalisasi kawasan pesisir melalui pemetaan spasial wilayah budidaya, zonasi sumber daya, serta identifikasi hotspot biodiversitas laut yang selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan pengelolaan yang tepat, makroalga berpotensi menjadi fondasi penting bagi penguatan bioindustri biru sekaligus ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya laut.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!