Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Arkeologi Jejak Megalitik di Ternate Berhasil Terungkap lewa...
Arkeologi

Jejak Megalitik di Ternate Berhasil Terungkap lewat Metode Spatial Geoarchaeology

Jejak Megalitik di Ternate Berhasil Terungkap lewat Metode Spatial Geoarchaeology

Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa persebaran situs megalitik di Pulau Ternate tidak terjadi secara acak, melainkan mengikuti pola spasial yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan geologi. Temuan ini menunjukkan bahwa tata ruang budaya pada masa lampau terbentuk melalui proses adaptasi manusia terhadap lanskap pulau vulkanik yang dinamis. Dengan demikian, penempatan situs megalitik tidak hanya mencerminkan nilai budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu memahami potensi sumber daya alam sekaligus risiko bencana di lingkungannya.

Kajian yang dipimpin peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Chusni Ansori, menggunakan pendekatan spatial geoarchaeology untuk mengkaji hubungan antara persebaran situs megalitik dan kondisi geologi di kawasan Ternate Aspiring National Geopark, Maluku Utara. Pendekatan ini mengintegrasikan data arkeologi dengan analisis geologi melalui pemetaan serta pemodelan geospasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah mempertimbangkan karakteristik alam ketika menentukan lokasi situs budaya yang dikenal sebagai Jere.

Jejak Megalitik di Ternate Berhasil Terungkap lewat Metode Spatial Geoarchaeology - Gambar 1

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi apakah masyarakat masa lalu memperhitungkan berbagai parameter lingkungan dalam menentukan lokasi situs budaya. Parameter yang dianalisis meliputi potensi bahaya gunung api, ketersediaan air tanah dan air permukaan, jarak terhadap sungai, serta kondisi geomorfologi wilayah. Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, penelitian memanfaatkan survei lapangan, analisis geokimia batuan menggunakan metode XRF, pemodelan digital elevasi, serta analisis spasial berbasis sistem informasi geografis (SIG) dengan metode analytical hierarchy process (AHP).

Hasil analisis geospasial menunjukkan bahwa dari tujuh parameter geologi yang dikaji, terdapat tiga faktor utama yang paling berpengaruh terhadap penempatan situs megalitik di Pulau Ternate.

Faktor pertama adalah potensi bahaya erupsi gunung api dengan tingkat pengaruh sekitar 37,97 persen. Sebagian besar situs megalitik ditemukan berada di luar zona bahaya erupsi. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memahami risiko vulkanik dan secara sadar memilih lokasi yang relatif aman dari ancaman erupsi.

Faktor kedua adalah jarak terhadap sungai dengan pengaruh sekitar 25,75 persen. Analisis spasial menunjukkan mayoritas situs berada pada jarak kurang dari 250 meter dari aliran sungai. Kedekatan ini menandakan pentingnya akses terhadap sumber air bagi kehidupan masyarakat, baik untuk kebutuhan domestik maupun aktivitas sosial.

Faktor ketiga adalah kondisi geomorfologi kaki gunung dengan pengaruh sekitar 13,78 persen. Banyak situs berada di wilayah kaki gunung dengan topografi relatif landai. Kondisi ini mendukung mobilitas manusia serta menyediakan ruang yang lebih stabil untuk aktivitas sosial dan ritual masyarakat pada masa lalu.

Keterkaitan antara budaya masyarakat dan lanskap geologi juga terlihat dari fungsi situs Jere dalam kehidupan sosial masyarakat Ternate. Situs-situs tersebut tidak hanya berfungsi sebagai simbol spiritual, tetapi juga mencerminkan sistem adaptasi masyarakat terhadap lingkungan vulkanik yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Hingga kini, keberadaan situs Jere masih menjadi bagian dari tradisi lokal, terutama dalam ritual adat Kololi Kie. Dalam ritual tersebut, masyarakat mengunjungi sejumlah situs Jere untuk memanjatkan doa keselamatan dari potensi erupsi Gunung Gamalama. Tradisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan alam di Pulau Ternate tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat.

Temuan penelitian ini juga memiliki implikasi penting bagi pengembangan Ternate Aspiring National Geopark. Melalui pendekatan spatial geoarchaeology, hubungan antara situs budaya dan kondisi geologi dapat dipahami secara lebih menyeluruh sehingga dapat mendukung pengelolaan geopark yang lebih terintegrasi, baik dalam konservasi geologi, pendidikan kebumian, maupun pengembangan ekonomi lokal melalui geowisata berbasis warisan alam dan budaya.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!