Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Geopolitik Data MarineTraffic Ungkap Kapal Pertamina Mulai Be...
Geopolitik

Data MarineTraffic Ungkap Kapal Pertamina Mulai Bergerak di Selat Hormuz

Data MarineTraffic Ungkap Kapal Pertamina Mulai Bergerak di Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, data pelacakan kapal dari MarineTraffic menunjukkan perkembangan penting terkait pergerakan armada tanker milik Pertamina di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz. Kawasan ini merupakan salah satu titik paling strategis dalam jalur distribusi energi dunia sehingga setiap pergerakan kapal di wilayah tersebut memiliki dampak langsung terhadap rantai pasok minyak global ataupun kebutuhan energi nasional Indonesia.

Berdasarkan data per Selasa, 7 April 2026, kapal tanker minyak mentah Pertamina Pride terpantau berada di sekitar Ras Tanura, Arab Saudi, dalam kondisi berlabuh (at anchor). Posisi ini berada di sisi barat Teluk Persia, dekat salah satu terminal ekspor minyak terbesar di dunia. Dilansir dari BeritaSatu.com, kapal jenis very large crude carrier (VLCC) dengan panjang sekitar 330 meter dan lebar 60,05 meter itu tercatat tidak bergerak, dengan kecepatan 0 knot, tetapi rute tujuan tetap mengarah ke Cilacap, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu pusat pengolahan energi nasional. 

Sementara itu, kapal tanker lain, Gamsunoro, juga terpantau berada di kawasan Dubai, Uni Emirat Arab, dengan status yang sama, yakni berlabuh. Posisi kedua kapal tersebut menggambarkan pola holding zone atau area tunggu, yang umumnya digunakan kapal sebelum memasuki koridor sempit Selat Hormuz. Hal ini menandakan bahwa operator pelayaran masih menunggu kepastian keamanan sebelum melanjutkan perjalanan.

Data MarineTraffic Ungkap Kapal Pertamina Mulai Bergerak di Selat Hormuz - Gambar 1
Kapal Gamsunoro terpantau lewat MarineTraffic berada di Dubai.

Dengan mulai terdeteksinya posisi aktif kapal-kapal Pertamina di sekitar Teluk Persia memberi sinyal bahwa arus logistik energi berpotensi pulih secara bertahap. Pergerakan menuju Cilacap menjadi indikator penting bagi keberlanjutan pasokan minyak domestik dalam beberapa pekan ke depan.

Selat Hormuz sendiri merupakan choke point energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini dilalui sekitar 15–20 persen pasokan minyak dunia sehingga gangguan sejak akhir Februari telah memicu blokade de facto dan menyebabkan distribusi energi global terganggu signifikan. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel, sekaligus meningkatkan risiko pasokan bagi negara-negara importir, termasuk Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!