Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Infrastruktur BRIN Sebut Kawasan Pecinan sebagai Simbol Tolerans...
Infrastruktur

BRIN Sebut Kawasan Pecinan sebagai Simbol Toleransi di Ruang Urban

BRIN Sebut Kawasan Pecinan sebagai Simbol Toleransi di Ruang Urban

Perkembangan kota-kota besar di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga oleh dinamika sosial serta identitas budaya yang hidup di dalamnya. Dalam konteks ini, kawasan pecinan menjadi salah satu ruang urban yang mencerminkan sejarah panjang interaksi antar-etnis sekaligus menunjukkan bagaimana identitas budaya beradaptasi dengan modernitas kota. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertajuk “Chinatown Today: Ethnicity Within a Globalized City in Indonesia” mengkaji dinamika kawasan pecinan di Jakarta, Bogor, dan Bandung sebagai bagian dari strategi pembangunan kota global yang lebih inklusif.

Riset yang dilakukan oleh Ju Lan Thung, Tine Suartina, dan Paulus Rudolf Yuniarto dari Pusat Riset Kewilayahan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN menyoroti fenomena rebranding kawasan etnis dalam konteks perkotaan. Kajian ini menganalisis empat elemen utama, yakni karakteristik pecinan, dinamika perkembangan kota, arah kebijakan pemerintah, serta perubahan identitas etnisitas.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa batas fisik kawasan pecinan kini kian fleksibel. Interaksi antara kebijakan pemerintah yang bersifat top-down dan adaptasi sosial masyarakat yang berlangsung secara bottom-up menciptakan rekontekstualisasi ruang sehingga pecinan tidak lagi hanya menjadi kawasan etnis yang tertutup, melainkan ruang urban yang makin terbuka bagi interaksi lintas budaya.

Penelitian BRIN juga menemukan penerapan konsep storynomics dalam pengembangan kawasan pecinan sebagai bagian dari inovasi pariwisata perkotaan. Di Jakarta, kawasan Glodok mengalami transformasi dari pusat perdagangan tradisional menjadi ruang budaya yang terintegrasi dengan narasi sejarah Kota Tua. Pendekatan ini memanfaatkan cerita sejarah, identitas budaya, serta lanskap kota untuk memperkuat daya tarik kawasan sebagai destinasi wisata berbasis pengalaman.

Di Bogor, revitalisasi koridor Suryakencana menunjukkan bagaimana kebijakan pemerintah daerah memunculkan kembali identitas Tionghoa sebagai aset budaya dan ekonomi. Sementara di Bandung, pola perkembangan pecinan cenderung lebih cair karena identitas etnis tidak terkonsentrasi pada satu kawasan tertentu, melainkan menyebar melalui aktivitas ekonomi dan interaksi sosial lintas etnis.

Peneliti BRIN menjelaskan bahwa transformasi kawasan pecinan mencerminkan proses adaptasi identitas etnis di tengah arus globalisasi perkotaan. Pecinan masa kini dipahami sebagai ruang di mana identitas budaya terus dikonstruksi ulang melalui interaksi antara memori sejarah, kebijakan perkotaan, dan kebutuhan ekonomi kreatif.

Namun, penelitian ini juga mengingatkan adanya risiko jika pelabelan kawasan ‘chinatown’ hanya difokuskan pada komersialisasi budaya. Pendekatan semacam ini berpotensi menciptakan segregasi sosial secara sukarela. Oleh karena itu, perencanaan kota perlu memastikan bahwa pengembangan kawasan pecinan tetap menjaga inklusivitas dan memperkuat fungsi ruang publik bagi seluruh masyarakat. Dengan cara ini, modernisasi kota dapat berjalan seiring dengan pelestarian keberagaman budaya sebagai bagian penting dari identitas urban Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!