Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) menetapkan tahun 2026 sebagai titik awal transformasi besar teknologi peta laut elektronik atau Electronic Navigational Chart (ENC) menuju standar internasional S-100. Modernisasi sistem navigasi ini diproyeksikan tuntas sepenuhnya dalam enam tahun mendatang untuk memperkuat akurasi data kelautan nasional.
Langkah strategis tersebut ditegaskan oleh Wakil Komandan Pushidrosal, Laksamana Muda TNI Bambang Irawan, saat memimpin apel khusus di Markas Besar Pushidrosal, Ancol, Jakarta Utara, Senin, 6 April 2026. Berdasarkan laporan IndonesiaDefense.com, Bambang menjelaskan bahwa standar S-100 merupakan sistem data hidrografi universal masa depan yang jauh lebih dinamis dibandingkan sistem sebelumnya.
"Tahun 2026 menjadi tonggak awal transformasi teknologi ENC yang kita targetkan tuntas pada 2032. Seluruh personel wajib memahami sistem S-100 ini karena modernisasi merupakan tanggung jawab bersama," ujar Bambang saat memberikan pengarahan di hadapan prajurit dan PNS Pushidrosal.
Teknologi standar S-100 ini memiliki kemampuan mengintegrasikan berbagai informasi kelautan secara real time. Melalui sistem tersebut, informasi penting, seperti prakiraan cuaca dan arus laut, dapat ditampilkan langsung dalam satu layar navigasi sehingga meningkatkan efisiensi serta keamanan pelayaran di perairan Indonesia.
Dukungan untuk Proyek Strategis Nasional
Selain fokus pada pembaruan internal, Pushidrosal terus memperkuat sinergi dengan Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ). Kerja sama ini dilakukan untuk mendukung proyek strategis nasional, khususnya pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di utara Pulau Jawa.
Dalam proyek tersebut, Pushidrosal memegang peran krusial dalam penyediaan data hidrografi dan batimetri. Pemetaan kedalaman laut yang akurat menjadi acuan teknis utama agar konstruksi tanggul efektif dalam memitigasi kenaikan permukaan air laut.
Di saat yang sama, tim ahli Pushidrosal sedang mengintensifkan survei serta pemetaan jalur pipa dan kabel bawah laut. Langkah ini diambil guna menjamin keamanan instalasi vital di dasar samudra dari gangguan aktivitas pelayaran maupun faktor alam.
"Kerja sama lintas sektor akan terus ditingkatkan. Efektivitas dan kualitas hasil kerja hidro-oseanografi nasional harus optimal demi mendukung pembangunan strategis pemerintah," tambahnya.
Di balik transformasi teknologi, Laksamana Muda Bambang Irawan mengingatkan, sebagaimana dilansir dari laman Puspen TNI, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tetap menjadi fondasi utama dalam setiap pelaksanaan tugas. Menurutnya, nilai moral inilah yang akan membentuk pengendalian diri dan profesionalisme prajurit di lapangan.
Ia juga menekankan agar seluruh personel bersikap bijak, terutama dalam menghadapi dinamika di media sosial. Setiap prajurit diharapkan mampu menjaga citra institusi melalui perilaku sederhana, seperti tetap menaati peraturan lalu lintas saat berkendara di jalan raya sebagai wujud keteladanan bagi masyarakat luas.
