Di tengah tantangan pemerataan layanan kesehatan serta meningkatnya kebutuhan akan deteksi dini penyakit di berbagai wilayah Indonesia, inovasi teknologi menjadi kunci penting untuk menjawab persoalan tersebut. Dalam konteks inilah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat perannya melalui pengembangan teknologi biosensing yang dirancang mampu mendeteksi berbagai penyakit secara cepat dan akurat, sekaligus lebih mudah diaplikasikan di lapangan.
Teknologi biosensing dinilai strategis karena mengombinasikan komponen biologis yang bersifat sangat spesifik dengan detektor fisikokimia sehingga proses analisis dapat dilakukan secara lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini membuka peluang besar untuk mendukung pemetaan dan pemerataan layanan kesehatan antarwilayah, khususnya di daerah terpencil yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas laboratorium dan sumber daya pendukung.
Dalam keterangan resmi BRIN, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Elektronika BRIN, Ni Luh Wulan Septiani, menjelaskan bahwa Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing memiliki dua fokus utama, yakni pengembangan bioelektronika dan biosensor. Pengembangan tersebut dilakukan di lokasi yang berbeda, di mana riset bioelektronika dilaksanakan oleh periset yang berada di KST BJ Habibie, sedangkan riset biosensing dipusatkan di KST Samaun Samadikun. Pola ini mencerminkan strategi geospasial BRIN dalam mendistribusikan pusat-pusat inovasi sesuai dengan ekosistem riset regional yang mendukung efektivitas pengembangan teknologi.
Fokus penelitian biosensing diarahkan pada pengembangan perangkat biosensor yang terintegrasi dengan sistem pembacanya agar dapat digunakan secara aplikatif di berbagai sektor, terutama kesehatan dan pangan. Berdasarkan mekanisme kerjanya, biosensor yang dikembangkan terbagi menjadi biosensor optikal dan biosensor elektrokimia, yang masing-masing memanfaatkan perubahan sifat optik maupun elektronik material saat berinteraksi dengan target deteksi tertentu.
Perubahan sifat fisis tersebut kemudian dikonversi menjadi sinyal terukur, seperti perubahan warna pada biosensor optikal atau perubahan arus listrik pada biosensor elektrokimia. Sinyal inilah yang relevan untuk mendukung analisis serta pemetaan sebaran penyakit berbasis wilayah. Salah satu contoh penerapannya adalah penggunaan material emas untuk mendeteksi biomarker kanker melalui perubahan warna sebagai indikasi awal keberadaan senyawa target, meskipun pendekatan ini masih terus dikembangkan agar mampu memberikan informasi kuantitatif yang lebih komprehensif.
Saat ini, BRIN tengah mengembangkan berbagai perangkat biosensor untuk mendeteksi penyakit infeksius dan berisiko tinggi, seperti tuberkulosis, hepatitis, demam berdarah, dan kanker, dengan harapan dapat memperkuat sistem deteksi dini penyakit secara cepat dan akurat di berbagai daerah. Di luar bidang kesehatan, riset biosensing juga diarahkan pada pengembangan sensor kualitas pangan guna mendukung pengawasan program Makan Bergizi Gratis, serta inovasi vein finder untuk membantu tenaga kesehatan menentukan titik vena optimal saat pengambilan darah.