Di tengah percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kebutuhan akan sistem logistik maritim yang aman dan efisien menjadi makin mendesak. Selat Makassar, sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indonesia, kini berada dalam sorotan sebagai ruang strategis yang harus ditata secara ilmiah. Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika menghadirkan pendekatan geospasial untuk merancang jalur pelayaran yang tidak hanya aman, tetapi juga adaptif terhadap dinamika lingkungan laut.
BRIN memperkuat kontribusinya dalam pembangunan berbasis sains dengan merancang skema Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Makassar, kawasan yang merupakan koridor strategis yang menghubungkan arus logistik domestik dan internasional sehingga membutuhkan pengaturan ruang laut yang presisi. Perancangan jalur pelayaran ini tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga bagian dari strategi penataan ruang laut nasional untuk mendukung keberadaan pelabuhan hub di Ibu Kota Nusantara.
BRIN menegaskan bahwa pengembangan TSS dilakukan melalui pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan analisis lalu lintas kapal, pemodelan risiko kecelakaan, serta parameter hidro-oseanografi, seperti arus, gelombang, dan angin. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengaturan jalur pelayaran terstruktur merupakan kunci dalam meminimalkan potensi tabrakan sekaligus meningkatkan keselamatan navigasi. Dengan basis data, setiap variabel dipetakan untuk menghasilkan desain jalur yang adaptif terhadap dinamika perairan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema ideal terdiri atas dua jalur terpisah dengan lebar masing-masing sekitar tiga kilometer untuk kapal yang berlawanan arah. Lebar ini dinilai optimal untuk menjaga jarak aman antarkapal sekaligus mempertimbangkan efisiensi ruang laut. Desain tersebut juga mengakomodasi berbagai hambatan navigasi, seperti pipa bawah laut, anjungan lepas pantai, dan terumbu karang, sehingga tidak hanya aman, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem.
Rancangan TSS ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pelabuhan hub IKN sebagai simpul logistik nasional dan global. Penataan jalur distribusi barang menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan keselamatan dan menjaga keseimbangan lingkungan laut.
BRIN menekankan bahwa riset ini merupakan tahap awal yang masih berbasis data sekunder. Ke depan, integrasi data real-time, seperti Automatic Identification System dan survei hidrografi resolusi tinggi, menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan akurasi. Dengan penguatan data geospasial dinamis, Indonesia berpeluang memperkuat posisi dalam tata kelola maritim global berbasis sains.