Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home BRIN BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Berbasis Sen...
BRIN

BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Berbasis Sensor dan IoT di Waduk Cirata

BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Berbasis Sensor dan IoT di Waduk Cirata

Di tengah meningkatnya tekanan lingkungan akibat aktivitas industri, domestik, dan perubahan tata ruang, kualitas air pada waduk strategis menjadi isu yang makin krusial. Salah satunya adalah Waduk Cirata. Waduk ini memiliki peran penting sebagai sumber energi, perikanan, dan penyangga ekosistem di Jawa Barat sehingga membutuhkan sistem pemantauan yang mampu bekerja cepat dan akurat. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan inovasi berbasis teknologi melalui pengembangan Water Quality Monitoring System (WQMS), sebuah sistem pemantauan kualitas air real-time yang dirancang untuk mendeteksi potensi pencemaran sejak dini. 

Melalui Pusat Riset Elektronika, BRIN mengembangkan purwarupa WQMS berbasis sensor dan internet of things (IoT) yang mampu memantau kondisi kualitas air secara otomatis dan berkelanjutan. Sistem ini dirancang untuk membaca sejumlah parameter penting, seperti pH, suhu, konduktivitas, serta kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen—DO). Seluruh data yang diperoleh dikirimkan langsung ke server berbasis cloud sehingga dapat diakses secara jarak jauh melalui komputer maupun perangkat mobile.

BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Berbasis Sensor dan IoT di Waduk Cirata - Gambar 1

Pendekatan ini menjadi solusi atas keterbatasan metode konvensional yang masih bergantung pada pengambilan sampel manual. Dengan pemantauan real-time, perubahan kualitas air dapat diketahui secara cepat dan akurat sehingga potensi gangguan lingkungan dapat segera diantisipasi sebelum berkembang menjadi pencemaran yang lebih luas.

Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan, tetapi juga sebagai instrumen untuk memetakan dinamika kualitas air berdasarkan lokasi dan pola sebaran pencemaran. Tahapan riset dilakukan mulai dari integrasi sistem di laboratorium hingga uji lapangan pada sejumlah titik strategis di daerah aliran sungai (DAS) dan kawasan Waduk Cirata.

Hasil survei menunjukkan bahwa area waduk mempunyai tingkat kelayakan lebih tinggi dibandingkan sungai karena kondisi perairan yang lebih stabil serta didukung infrastruktur listrik dan jaringan komunikasi yang memadai. Berdasarkan evaluasi spasial tersebut, Dermaga Leuwi Orok ditetapkan sebagai titik utama pemasangan sistem, dengan dukungan titik pemantauan lain di Dermaga Ciputri, Dermaga Coklat, dan Gudang Maleber.

Dengan pendekatan tersebut, sumber pencemaran dapat diidentifikasi lebih dini, termasuk pola arah sebarannya berdasarkan kondisi hidrologi kawasan. Ke depan, sistem ini akan memasuki tahap koordinasi teknis dengan pemerintah daerah dan pengelola waduk, sebelum diimplementasikan penuh sebagai solusi riset untuk menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!