Perbincangan mengenai megathrust sering kali memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, bagi Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., pemahaman mendalam mengenai fenomena ini jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga ketenangan publik tanpa dasar.
Dalam diskusi di Podcast Laporan, Opini, Kajian, Analisis Spasial Indonesia (LOKASI) Spatial Highlights pada 13 Februari 2026, mantan Kepala BMKG ini menjelaskan bahwa megathrust pada dasarnya adalah fenomena sederhana berupa tumbukan lempeng. Di Indonesia, fenomena ini terjadi akibat pertemuan lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Asia yang cakupannya sangat luas.
"Tumbukan lempeng yang berpotensi di zona megathrust, yaitu zona-zona yang besar, luas. Yaitu perbatasan antara zona tumbukan lempeng samudera Indo-Australia dengan lempeng benua Asia. Itu kan sangat luas," jelas Dwikorita.
Mekanisme Patahan Naik dan Risiko Tsunami
Secara teknis, megathrust terjadi ketika batuan di zona tumbukan melengkung akibat tekanan hebat hingga akhirnya patah. Karena area yang patah sangat luas, energi yang dilepaskan juga sangat masif. Istilah thrust sendiri merujuk pada patahan naik yang mampu menghentak dasar samudra.
"Energi saat patah yang dikatakan gempa bumi, itu kan energi yang dikeluarkan dari lempeng yang patah karena lempeng yang patah itu luas. Maka energinya juga besar. Makanya mega, thrust. Thrust itu artinya patahan naik. Patahan naik itu patahan yang membuat dasar samudera sebagian kecil tersentak naik. Dan itu membangkitkan tsunami yang juga mega," tambahnya.
Tragedi tsunami Aceh pada Desember 2004 merupakan bukti nyata kekuatan gempa megathrust yang mencapai magnitudo 9,1. Dwikorita menekankan pentingnya transparansi informasi kepada publik mengenai potensi ini agar sejarah kelam jatuhnya banyak korban jiwa akibat ketidaktahuan tidak terulang kembali.
Meski ilmu pengetahuan saat ini mampu memetakan zona potensi dan memperkirakan dampak tsunami, waktu terjadinya gempa tetap menjadi misteri. Para ahli dapat menghitung ketinggian gelombang dan waktu tiba tsunami, tetapi belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan lempeng tersebut akan patah.
Perbandingan dengan wilayah lain menunjukkan adanya urgensi bagi Indonesia. Di Jepang, zona Nankai memiliki periode ulang sekitar 70 tahun. Sementara di Indonesia, beberapa zona megathrust tercatat belum mengalami patahan besar selama lebih dari 100 hingga mendekati 200 tahun.
"Di Indonesia ini sudah lebih dari 100 tahun. Bahkan mendekati 200 tahun. Belum terjadi. Jadi, logikanya, kalau ditanyakan kapan? Kita tidak tahu. Kita tidak tahu betul sekali. Tapi kalau sekarang ini sudah memasuki menjelang 200 tahun. Padahal di tempat lain 70 tahun terjadi," ungkap mantan Rektor UGM tersebut.
Alih-alih memicu kepanikan, data statistik dan sejarah ini seharusnya menjadi penggerak kesiapsiagaan. Salah satu contoh nyata mitigasi yang berhasil diwujudkan adalah pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo.
Bandara ini menjadi satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang sejak awal dirancang khusus untuk menghadapi potensi gempa megathrust dan tsunami. Struktur bangunannya telah diperhitungkan mampu menahan guncangan gempa dengan magnitudo hingga 8,7.
"Jika sedang berada di bandara Yogyakarta International Airport, ada gempa, jangan panik. Ini kan tidak menakut-nakuti. Jangan panik. Tempat itu paling aman yang ada di sana karena sudah dirancang," tutup Dwikorita.
