Perubahan iklim global makin menegaskan pentingnya membaca risiko secara spasial dan temporal, terutama bagi wilayah kepulauan, seperti Indonesia, yang berada di persimpangan dinamika atmosfer dan samudra. Pemodelan iklim terbaru yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Malaka Project menunjukkan bahwa dalam periode 2021–2040, Sumatera diproyeksikan menjadi wilayah paling rentan terhadap kombinasi hujan dan angin ekstrem. Proyeksi ini tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari analisis 14 model iklim yang mengevaluasi keterkaitan dua variabel utama cuaca ekstrem tersebut serta intensitas interaksinya.
Kerentanan Sumatera tidak terlepas dari konfigurasi geografisnya. Di sisi barat, pulau ini terbuka langsung ke Samudra Hindia yang dikenal sebagai salah satu pusat pembentukan sistem konvektif tropis, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Selat Malaka yang menjadi jalur pertemuan massa udara regional. Ketika monsun barat menguat pada musim hujan Desember–Februari, suplai uap air meningkat signifikan dan memperbesar peluang terbentuknya hujan lebat disertai angin kencang. Aktivitas badai tropis di perairan sekitar turut memperkuat sistem tersebut, menciptakan kondisi ekstrem yang tidak hanya lebih intens, tetapi juga lebih luas cakupan wilayah terdampaknya.
Secara spasial, peningkatan hujan ekstrem paling menonjol terdeteksi di Sumatera bagian utara dan wilayah Riau, termasuk Pekanbaru serta kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Di zona ini, hujan dan angin ekstrem meningkat secara bersamaan, memperlihatkan korelasi kuat antara dinamika atmosfer regional dan pemanasan permukaan laut. Dikutip dari akun resmi Malaka Project, Profesor Riset BRIN Erma Yulihastin menyatakan bahwa kombinasi faktor oseanografis dan atmosferik menjadikan Sumatera sangat sensitif terhadap penguatan sistem cuaca skala besar, terutama ketika terjadi anomali suhu permukaan laut di sekitar Samudra Hindia.
Dalam perbandingan antarpulau, Jawa relatif menunjukkan stabilitas yang lebih baik meskipun tetap mengalami kenaikan intensitas hujan dan angin ekstrem pada periode Maret–Mei. Namun, karakter topografi dan posisinya yang tidak sepenuhnya terbuka terhadap pusat badai tropis menjadikan dampaknya lebih terbatas dibanding Sumatera.
Keseluruhan temuan ini menegaskan bahwa tantangan ke depan tidak hanya terletak pada meningkatnya risiko, tetapi juga pada kesiapan sistem mitigasi. Penguatan peringatan dini, peningkatan resolusi pemodelan iklim hingga skala lokal, penataan ruang pesisir, serta integrasi risiko ke dalam kebijakan pembangunan menjadi kebutuhan mendesak agar wilayah paling rentan tidak berubah menjadi pusat kerugian berulang akibat cuaca ekstrem yang makin sering dan berdampak besar.
