Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Ahli IPB Ingatkan El Nino Godzilla Bisa Picu Kebak...
Kebencanaan

Ahli IPB Ingatkan El Nino Godzilla Bisa Picu Kebakaran Hutan Besar

Ahli IPB Ingatkan El Nino Godzilla Bisa Picu Kebakaran Hutan Besar

Musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak akan berjalan seperti biasanya. Di tengah meningkatnya suhu global dan perubahan pola cuaca, para ahli mulai memberi peringatan serius mengenai munculnya Super El Nino atau yang kerap disebut “El Nino Godzilla”. Fenomena iklim ekstrem ini dinilai berpotensi memicu kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang selama ini dikenal rawan.

El Nino Godzilla terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik tropis mengalami kenaikan sangat tinggi, bahkan mencapai 2,7 derajat Celsius di atas kondisi normal. Kenaikan suhu ini bukan sekadar angka, tetapi berdampak langsung pada perubahan pola angin, pembentukan awan, hingga distribusi curah hujan. Kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan, mengalami musim kering yang lebih panjang dan intens dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Wilayah yang memiliki dominasi lahan gambut, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, menjadi area yang perlu mendapat perhatian khusus. Kawasan ini memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran karena tanah gambut sangat mudah mengering saat pasokan air berkurang. Ketika kondisi tanah mulai kehilangan kelembapan, api dapat dengan cepat menyebar, bahkan merambat di bawah permukaan tanah.

Berdasarkan laporan detikNews, pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo menyatakan bahwa situasi saat ini memiliki kemiripan dengan peristiwa kebakaran besar pada 1997–1998. Pada saat itu, sekitar 10 hingga 11 juta hektare lahan terbakar dan menyebabkan sekitar 500 korban jiwa. Menurutnya, pola cuaca ekstrem yang mulai terlihat saat ini perlu diwaspadai agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Saat melakukan peninjauan di Bengkalis, Riau, Bambang juga menyoroti kondisi tinggi muka air pada saluran parit yang tercatat lebih dari 40 sentimeter. Dalam pengelolaan lahan gambut, tinggi muka air merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat risiko kebakaran. Makin rendah kadar air di dalam tanah, makin tinggi pula potensi lahan menjadi kering dan mudah terbakar.

Oleh karena itu, upaya mitigasi harus dilakukan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan, pemantauan titik panas berbasis satelit, serta pengawasan intensif di daerah yang selama ini menjadi langganan karhutla. Dengan langkah antisipasi yang cepat dan terukur, risiko kabut asap yang mengepung wilayah Nusantara diharapkan dapat dicegah sebelum meluas.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!