Ekosistem padang lamun Indonesia diprediksi mampu menyimpan hingga 0,55 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e). Potensi masif ini mempertegas posisi strategis wilayah pesisir Nusantara sebagai garda terdepan dalam mitigasi perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca global.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yusmiana Rahayu, menjelaskan bahwa estimasi penyimpanan karbon tersebut berpijak pada data luasan padang lamun tahun 2018 yang mencapai 875 ribu hingga 1,8 juta hektare.
"Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen," katanya dalam diskusi daring pada Senin, 2 Maret 2026, sebagaimana dikutip ANTARA.
Kalkulasi ini merupakan hasil penggabungan kemampuan penyimpanan karbon pada biomassa dan sedimen ekosistem lamun. Signifikansi potensi ini terlihat nyata saat disandingkan dengan total emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun 2019 yang tercatat sebesar 1,84 Gt CO2e.
Melalui riset tahun 2024, Yusmiana memberikan gambaran mengenai daya serap ekosistem pesisir terhadap jejak karbon nasional. "Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia," katanya.
Peta Nasional 2025 dan Validasi Data
Angka potensi karbon ini berpeluang diperbarui setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025. Pemerintah menetapkan luasan resmi padang lamun nasional sebesar 660 ribu hektare dan karang keras seluas 838 ribu hektare.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC). Sektor kelautan kini memegang peran vital dalam penyelenggaraan nilai ekonomi karbon yang mencakup mitigasi sekaligus adaptasi perubahan iklim.
Kementerian Kelautan dan Perikanan mengonfirmasi bahwa padang lamun adalah aset karbon biru yang paling siap untuk diperdagangkan. Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P4K) KKP, Muhammad Yusuf, menekankan bahwa ekosistem ini mampu menyimpan emisi jauh lebih banyak daripada hutan tropis.
"Ekosistem karbon biru yang sudah siap diperdagangkan di antaranya padang lamun," ujar Muhammad Yusuf.
Saat ini, KKP tengah merampungkan tahap akhir validasi pemetaan terhadap potensi 1,8 juta hektare padang lamun. Hal ini dilakukan untuk memastikan akurasi data sebelum masuk ke pasar perdagangan karbon demi memberikan keuntungan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia.
