Upaya pemulihan lahan bekas tambang di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan ruang dan lingkungan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi reklamasi lahan bekas tambang hingga pertengahan 2025 mencapai 5.739,39 hektare atau sekitar 80,43 persen dari target 7.135 hektare. Capaian ini tidak hanya merefleksikan keberhasilan administratif, tetapi juga menandai proses pemulihan fungsi ruang pada wilayah-wilayah yang sebelumnya mengalami degradasi berat akibat aktivitas ekstraktif.
Dilansir dari situs resmi Universitas Gajah Mada (UGM), salah satu contoh konkret datang dari dosen Fakultas Kehutanan, Agus Affianto atau Picoez, yang bersama timnya berhasil mengembangkan model rehabilitasi lahan tailing bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Kawasan ini tergolong ekstrem karena didominasi pasir sisa tambang dengan kemampuan menyerap air yang sangat rendah, suhu permukaan yang sangat tinggi, serta tingkat keasaman tanah yang mudah berubah saat musim hujan. Bahkan, hasil studi sebelumnya menunjukkan bahwa rumput membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami di kawasan tersebut.
Berangkat dari kondisi geografis yang kompleks itu, Picoez dan tim menyusun pendekatan rehabilitasi berbasis riset dan pengabdian masyarakat melalui pembuatan demplot uji coba. Tantangan utama muncul dari karakteristik spasial lahan tailing yang membuat suhu pasir mencapai 62,4 derajat Celsius pada pagi hari sehingga penanaman secara langsung nyaris mustahil dilakukan secara efektif. Selain itu, struktur pasir yang tidak mampu menahan air menyebabkan tanah mudah menjadi asam ketika hujan turun.
Untuk menjawab kondisi tersebut, tim kemudian mengembangkan metode kompos blok pada area sekitar 10 hektare melalui kolaborasi Fakultas Kehutanan UGM dan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Kompos yang dipadatkan digunakan sebagai media tanam awal untuk meningkatkan kelembapan tanah dan membangun fondasi ekologis baru. Sejumlah tanaman, seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu, ditanam sebagai vegetasi awal untuk menghasilkan serasah dan bahan organik yang dibutuhkan dalam proses pemulihan ekosistem.
Keberhasilan ini tidak lepas dari tahapan rehabilitasi yang dilakukan secara berkesinambungan. Picoez menjelaskan bahwa prosesnya dimulai dari memastikan tanaman mampu bertahan hidup, kemudian dilanjutkan dengan monitoring intensif untuk menjaga kelembapan, peningkatan kualitas melalui pemupukan, hingga tahap akhir berupa optimalisasi hasil ekonomi, seperti produksi buah.
Pendekatan ini memperlihatkan transformasi lanskap dari ruang ekstraktif menjadi ruang produktif yang memiliki fungsi ekologis sekaligus sosial-ekonomi. Tantangan sosial juga menjadi bagian penting, mengingat mayoritas masyarakat setempat telah lama bergantung pada sektor tambang timah. Oleh karena itu, integrasi tanaman sayuran dan komoditas bernilai jual menjadi strategi untuk menggeser orientasi pemanfaatan ruang masyarakat menuju kegiatan yang lebih berkelanjutan.
Keberhasilan model yang dikembangkan dosen UGM tersebut menunjukkan bahwa lahan bekas tambang bukanlah ruang mati. Wilayah tersebut masih dapat dipulihkan menjadi kawasan produktif melalui pendekatan ilmiah, spasial, dan pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi.
