Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang sangat besar, mulai dari terumbu karang hingga padang lamun yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir. Kekayaan ini tidak hanya menopang kehidupan jutaan masyarakat pesisir, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Namun, di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim, pembangunan pesisir, dan aktivitas manusia, pengelolaan ekosistem laut membutuhkan dasar data yang kuat dan akurat agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.
Sebagai langkah strategis, Indonesia resmi merampungkan dan meluncurkan Peta Karang dan Padang Lamun 2025 pada 4 Desember 2025. Peta ini menjadi instrumen penting untuk melihat kondisi terumbu karang dan padang lamun secara lebih rinci di seluruh wilayah Indonesia. Dengan pendekatan geospasial, peta ini mampu menunjukkan lokasi, luas, serta sebaran ekosistem laut secara jelas sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan laut, mitigasi perubahan iklim, dan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Dikutip dari Mongabay, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa peta karang dan padang lamun merupakan fondasi utama dalam pengelolaan karbon biru nasional. Keberadaan data spasial yang akurat memungkinkan pemerintah menyusun kebijakan pengendalian emisi gas rumah kaca dan nilai ekonomi karbon secara terukur. Dengan demikian, setiap program pembangunan kelautan dapat diarahkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar perkiraan.
Penyusunan peta ini dipimpin oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan melibatkan berbagai lembaga riset dan pendidikan, antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), serta Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Indonesian Seagrass Mapping Partnership (ISMP). Kolaborasi ini memastikan data yang dihasilkan memiliki kualitas ilmiah yang tinggi dan dapat digunakan secara luas oleh berbagai pemangku kepentingan.
