Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Akibat Penurunan Tanah, Pesisir Pulau Jawa Dipredi...
Lingkungan

Akibat Penurunan Tanah, Pesisir Pulau Jawa Diprediksi Tenggelam pada 2050

Akibat Penurunan Tanah, Pesisir Pulau Jawa Diprediksi Tenggelam pada 2050

Penelitian terbaru berjudul Land Subsidence on Java Island and Its Contributions to Relative Sea Level Change yang dipimpin Leonard O. Ohenhen mengungkap ancaman serius bagi masa depan pesisir Pulau Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan tanah di Jawa berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan muka laut global sehingga menjadi faktor utama yang mempercepat risiko tenggelamnya wilayah pesisir, khususnya di sepanjang Pantai Utara Jawa. 

Fenomena ini terlihat paling parah di kawasan dataran rendah aluvial yang padat penduduk dan aktivitas ekonomi, seperti Pekalongan, Demak, Semarang, Jakarta, Cirebon, Tegal, hingga Surabaya. Di sejumlah titik, laju penurunan tanah mencapai hingga 1,5 meter dalam kurun waktu 10 tahun, bahkan beberapa wilayah tercatat mengalami amblesan dua hingga tiga kali lebih cepat daripada Jakarta. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman tidak hanya terjadi di pusat kota besar, tetapi juga telah meluas ke desa-desa pesisir dan lahan pertanian yang menjadi penopang kebutuhan pangan masyarakat.

Penurunan permukaan tanah ini memperbesar kenaikan muka air laut relatif, di mana kontribusinya diperkirakan mencapai 85 persen pada tahun 2050. Artinya, ancaman banjir rob permanen di pesisir utara Jawa lebih banyak dipicu oleh daratan yang terus turun daripada laut yang naik. Jika tren ini terus berlanjut, lebih dari 75 persen garis pantai utara Jawa diproyeksikan berada dalam zona risiko banjir permanen dalam 25 tahun ke depan. 

Dampaknya tidak hanya berupa genangan air yang makin luas, tetapi juga potensi hilangnya kawasan permukiman, infrastruktur strategis, kawasan industri, pelabuhan, hingga sawah produktif. Tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terintegrasi, jutaan penduduk Jawa berisiko kehilangan rumah, lahan, dan sumber penghidupan dalam waktu kurang dari 30 tahun. 

Kondisi ini menegaskan bahwa pesisir utara Jawa sedang menghadapi krisis ruang hidup yang serius sehingga pengendalian ekstraksi air tanah, penguatan perlindungan pesisir, dan perencanaan tata ruang berbasis elevasi wilayah menjadi kebutuhan yang mendesak.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!