Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Citizen Science Jadi Cara BRIN Tingkatkan Pemahama...
Kebencanaan

Citizen Science Jadi Cara BRIN Tingkatkan Pemahaman Mitigasi Bencana di Level Daerah

Citizen Science Jadi Cara BRIN Tingkatkan Pemahaman Mitigasi Bencana di Level Daerah

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pendekatan citizen science sebagai strategi memperkuat mitigasi bencana di level daerah dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam sistem kesiapsiagaan. Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa risiko bencana tidak hanya dapat dipetakan melalui instrumen teknologi modern, tetapi juga melalui pengetahuan lokal yang hidup dalam manuskrip kuno, tradisi lisan, dan ritual komunitas. Dalam perspektif geospasial, ingatan kolektif tersebut sesungguhnya merekam pola kejadian bencana yang berulang, baik gempa bumi, tsunami, maupun fenomena hidrometeorologi, yang membentuk lanskap risiko suatu wilayah dari generasi ke generasi.

Fakhriati, peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, menyatakan bahwa dalam banyak komunitas, keputusan saat darurat tidak semata dipengaruhi oleh informasi teknis, melainkan oleh bahasa, memori kolektif, serta otoritas lokal yang dipercaya secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan bahwa respons kebencanaan memiliki dimensi sosial dan kultural yang kuat. Namun, pengetahuan kebencanaan sering kali berhenti sebagai wacana dan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi perilaku kolektif yang konsisten. Kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan inilah yang berupaya dijembatani melalui pendekatan partisipatif berbasis warga.

Pendekatan citizen science hadir sebagai ruang integrasi antara sains modern dan kearifan lokal. Fakhriati menegaskan bahwa mitigasi bencana akan efektif ketika pengetahuan, baik ilmiah maupun lokal, berubah menjadi tindakan kolektif yang dipatuhi bersama. Manuskrip takwil gempa dan tafsir waktu kejadian gempa dapat dipahami sebagai rekaman historis yang menunjukkan frekuensi dan persebaran peristiwa seismik pada periode tertentu. 

Walaupun bukan prediksi ilmiah, catatan tersebut berfungsi sebagai sistem kewaspadaan berbasis pengalaman yang membentuk disiplin sosial. Ketika dipadukan dengan peta risiko modern, data tersebut memperkaya analisis kerentanan sosial dan kapasitas adaptif masyarakat terhadap ancaman, seperti likuefaksi dan pergeseran tanah.

Praktik lokal, seperti tradisi Smong di Simeulue memperlihatkan bagaimana memori kolektif mampu membentuk pola evakuasi spasial yang efektif sehingga menekan jumlah korban saat tsunami. Pengetahuan tentang tanda surutnya air laut diterjemahkan menjadi gerakan menuju zona tinggi yang secara geografis lebih aman. Di Jakarta, praktik Majelis Bersila dalam komunitas Betawi menunjukkan bagaimana jejaring majelis taklim membangun solidaritas dan respons cepat berbasis relasi sosial. Jika divisualisasikan dalam peta jejaring sosial, struktur tersebut menjadi indikator penting dalam mengukur ketangguhan wilayah pada skala mikro.

Melalui citizen science, tradisi lisan, ritual, simbol budaya, dan sistem tanda alam terbukti mampu menggerakkan respons cepat masyarakat, bahkan sering kali lebih efektif dibanding bahasa teknis semata. Pendekatan ini membuka ruang demokratisasi pengetahuan dengan menjadikan warga sebagai pengamat lingkungan, pengumpul data, sekaligus aktor utama mitigasi risiko. Dengan integrasi antara pengetahuan lokal, teknologi, dan analisis spasial modern, mitigasi bencana berbasis daerah berkembang menjadi sistem adaptif yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat serta memperkuat ketahanan sosial dan ekologis secara berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!