Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Riset Geospasial Ungkap Fakta Baru di Balik Banjir...
Lingkungan

Riset Geospasial Ungkap Fakta Baru di Balik Banjir Bandang DAS Garoga

Riset Geospasial Ungkap Fakta Baru di Balik Banjir Bandang DAS Garoga

Silang pendapat mengenai dalang di balik bencana banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Selatan, mulai menemukan titik terang melalui pendekatan ilmiah. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) mengambil langkah tegas dengan membedah data geospasial guna meluruskan opini publik yang selama ini menyudutkan sektor pertambangan sebagai penyebab utama bencana tersebut. Dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) yang digelar di Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026, para ahli sepakat bahwa penanganan bencana lingkungan harus berlandaskan pada data lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua Umum PERHAPI, Sudirman Widhy Hartono, menegaskan bahwa forum ini merupakan jawaban atas derasnya narasi yang mengaitkan operasional tambang dengan musibah banjir di Sumatera Utara. Sudirman menekankan pentingnya melihat fakta hidrologi secara utuh agar tidak terjadi penghakiman sepihak terhadap industri tertentu.

“Memang seperti yang sudah rekan-rekan ketahui bahwa isu tentang bencana banjir ini dan tuduhan mengenai siapa penyebabnya marak terjadi di pemberitaan media massa nasional,” ujar Sudirman dikutip dari RM.id.

Pendekatan Geospasial

PERHAPI merujuk pada hasil investigasi lapangan selama dua bulan yang dilakukan oleh Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian independen tersebut dilaksanakan sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 untuk memetakan kondisi geospasial wilayah terdampak.

Salah satu poin krusial dalam kajian CENAGO adalah temuan bahwa banjir di DAS Garoga secara hidrologis terpisah dari sub-DAS tempat perusahaan tambang beroperasi. Artinya, luapan air yang terjadi di wilayah tersebut tidak berkaitan langsung dengan aktivitas ekstraksi di area tambang sekitarnya.

Sudirman menyatakan ketertarikannya terhadap akurasi data tersebut, yang sebelumnya juga telah dipresentasikan kepada pihak pemerintah pada pertengahan Februari lalu.

“PERHAPI juga diundang di sana dan kita sangat tertarik untuk mengundang CENAGO mempresentasikan hasil kajiannya kepada rekan-rekan PERHAPI,” jelas Sudirman.

Sejalan dengan temuan tersebut, Tim Riset ITB menggarisbawahi faktor alam sebagai pemicu utama. Koordinator Tim Riset CENAGO ITB, Heri Andreas, menjelaskan bahwa banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera pada November 2025 disebabkan oleh presipitasi yang sangat tinggi.

Dilansir dari ANTARA, berdasarkan analisis forensik terhadap DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru, curah hujan pada periode tersebut tercatat melampaui standar mitigasi banjir nasional. Intensitas hujan yang sangat ekstrem membuat infrastruktur pengendalian banjir yang ada tidak mampu menahan volume air yang datang secara tiba-tiba.

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), STJ Budi Santoso, memberikan dukungan penuh terhadap penggunaan data riil dalam pengambilan keputusan publik. Baginya, kompetensi pihak yang mengambil data menjadi jaminan validitas kebijakan di masa depan.

"Saya yakin pemerintah akan atau perlu menggunakan data dan hasil kajian yang dasarnya adalah data riil, diambil di lapangan oleh pihak yang memang punya kompetensi, dan bisa dipertanggungjawabkan di depan peers-nya, artinya kalangan yang memiliki keahlian yang sama, sehingga mampu mempertahankan hasil kajian itu," ujar Budi Santoso.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!