Krisis iklim sering kali dianggap sebagai siklus alami bumi yang berulang. Namun, data ilmiah terbaru mengungkap kenyataan yang jauh lebih mengerikan: kecepatan kenaikan suhu saat ini mencapai jutaan kali lipat lebih cepat dibandingkan masa kepunahan dinosaurus.
Dalam diskusi bersama I Made Andi Arsana di Podcast Laporan, Opini, Kajian, Analisis Spasial Indonesia (LOKASI) Spatial Highlights pada 24 Februari 2026, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. membedah anomali cuaca yang kini mulai mengepung zona ekuator Indonesia. Mantan Kepala BMKG tersebut menekankan bahwa perubahan iklim saat ini adalah hasil langsung dari aktivitas industri manusia.
Perbandingan Eksponensial: Dinosaurus vs. Manusia
Berdasarkan data paleoklimatologi, bumi setidaknya telah mengalami lima kali perubahan iklim besar dalam ratusan juta tahun terakhir. Salah satu yang paling fenomenal adalah masa punahnya dinosaurus sekitar 200 juta tahun lalu. Saat itu, suhu bumi naik antara 8 hingga 11 derajat Celsius.
Namun, kenaikan suhu sebesar itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat lambat, yakni sekitar 200 juta tahun. Bandingkan dengan realitas saat ini: sejak tahun 1850 hingga 2025, suhu global telah melonjak sebesar 1,55 derajat Celsius hanya dalam kurun waktu 170 tahun.
"Dinosaurus punah 10 derajat dalam 200 juta tahun. Berapa kali lipat kecepatan perubahan suhu itu? 100 kali lipat lebih. Mungkin malah hampir 1 juta kali lipat. Eksponensial. Kita manusia dengan dinosaurus itu kuat siapa? Bisa diukur. Akhirnya punah," tegas Dwikorita.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada penyebabnya. Dinosaurus tidak membangun industri ataupun menebang hutan secara masif. Kecepatan perubahan suhu yang terjadi saat ini sepenuhnya dipacu oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali.
Runtuhnya 'Benteng' Ekuator Indonesia
Secara teoretis, wilayah ekuator Indonesia (antara 10 derajat Lintang Selatan hingga 10 derajat Lintang Utara) seharusnya aman dari lintasan badai tropis atau siklon. Hal ini disebabkan oleh kecepatan rotasi bumi di ekuator yang sangat tinggi sehingga menciptakan gaya yang menghalau badai untuk masuk.
Namun, benteng alam ini mulai retak. Sejak menjabat sebagai Kepala BMKG pada 2017, Dwikorita menyaksikan fenomena yang tidak pernah terdengar di masa lalu: munculnya dua badai tropis dalam satu minggu. Puncaknya terjadi pada tahun 2021 dengan lahirnya Badai Tropis Seroja.
"Yang paling mengejutkan tahun 2021. Badai tropis Seroja. Lahir tumbuh di dalam sabuk ekuator, lahir di situ dan munculnya di situ. Dan itu sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya," jelasnya.
Lahirnya badai di zona ekuator dipicu oleh kenaikan suhu muka air laut yang ekstrem. Secara normal, suhu permukaan laut berada di angka 26°C. Namun, saat pembentukan badai tersebut, suhu meningkat tajam hingga mencapai 29°C.
Kenaikan sebesar 3 derajat Celsius di lautan adalah indikasi bahwa siklus hidrologi bumi sedang mengalami gangguan hebat. Kondisi ini mempercepat pembentukan awan hujan secara masif dan ekstrem.
"Artinya mendidih atmosfer kita, mendidih lautan kita. Dan itulah yang mengakibatkan pembentukan awan-awan hujan. Itu semakin masif. Jadi pemanasan global itu efeknya yang paling seketika itu menjadikan siklus hidrologi. Ini sebuah konfirmasi bahwa percaya tidak percaya, perubahan iklim adalah kenyataan," tutup Dwikorita.
