Di balik hamparan hijau hutan tropis Indonesia, perubahan bentang alam sesungguhnya sedang berlangsung jauh lebih cepat daripada yang terlihat di permukaan. Hutan yang dahulu menyambung tanpa batas kini perlahan terpecah menjadi petak-petak terisolasi akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan berbagai proyek pembangunan skala besar. Deforestasi dan alih fungsi lahan pun terbukti menjadi faktor dominan penyusutan keanekaragaman hayati Indonesia. Data Population Review menunjukkan Indonesia menempati posisi kedua tingkat deforestasi terparah di dunia pada 2024 setelah Brasil, dengan kehilangan hutan mencapai 26,5 juta hektare dalam 30 tahun terakhir.
Fragmentasi ini berdampak langsung pada spesies yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap vegetasi tertentu. Jika sebelumnya deforestasi disebut berkontribusi pada ledakan populasi nyamuk akibat perubahan ekosistem, kini dampak serupa mulai dirasakan oleh kupu-kupu.
Baca juga: Fakta Terbaru Ungkap Deforestasi Jadi Alasan Ledakan Populasi Nyamuk yang Mengancam Manusia
Serangga yang kerap diasosiasikan dengan keindahan ini ternyata sangat rentan terhadap gangguan habitat. Hubungan kupu-kupu dengan hutan bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan keterikatan biologis yang sangat spesifik. Dilansir dari Project Multatuli, Djunijanti Peggie, ahli Lepidoptera dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pendiri Kupunesia, menyatakan bahwa ancaman terbesar populasi kupu-kupu adalah alih fungsi hutan karena kehidupan kupu-kupu sangat bergantung pada tumbuhan inang yang sering kali bersifat sangat spesifik. Ketika hutan rusak, area reproduksi menghilang sehingga kupu-kupu tidak lagi memiliki tempat untuk bertelur dan siklus hidupnya terhenti sebelum generasi baru terbentuk.
Papua menjadi contoh nyata bagaimana tekanan terhadap hutan berimplikasi langsung pada spesies endemik. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas terkaya di dunia, dengan tujuh dari dua belas spesies Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung bersifat endemik. Namun, Auriga Nusantara mencatat kehilangan hutan alam Papua seluas 688.438 hektare sepanjang 2000–2022, dan pada 2023 Papua Selatan mencatat deforestasi tertinggi nasional sebesar12.640 hektare.
