Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Gelombang Rossby Ekuatorial Jadi Alasan Fenomena H...
Lingkungan

Gelombang Rossby Ekuatorial Jadi Alasan Fenomena Hujan Ekstrem di Indonesia, Apa Itu?

Gelombang Rossby Ekuatorial Jadi Alasan Fenomena Hujan Ekstrem di Indonesia, Apa Itu?

Intensitas hujan ekstrem di wilayah ekuatorial Indonesia menunjukkan kecenderungan yang makin kompleks seiring menguatnya interaksi dinamika atmosfer skala besar dan faktor lokal. Indonesia yang terletak di kawasan Benua Maritim menjadi titik pertemuan strategis antara samudra tropis hangat dan sistem sirkulasi global. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat responsif terhadap gangguan atmosfer, termasuk gelombang Rossby Ekuatorial (Equatorial Rossby/ER waves). 

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fadli Nauval, menyatakan dalam keterangan resmi bahwa gelombang Rossby Ekuatorial merupakan gelombang atmosfer skala besar yang terperangkap di sekitar ekuator akibat efek beta dan bergerak ke arah barat dalam rentang waktu 10–30 hari. Pergerakan yang relatif lambat tersebut memungkinkan akumulasi energi konvektif di suatu wilayah sehingga pembentukan awan hujan dapat berkembang lebih terorganisasi dan bertahan lebih lama.

Karakter geografis Indonesia memperkuat respons atmosfer terhadap gelombang ini. Perairan hangat menyediakan suplai uap air melimpah, sementara konfigurasi garis pantai dan topografi pegunungan memodifikasi distribusi angin serta pola konvergensi. Ketika gelombang Rossby Ekuatorial melintasi wilayah dengan kelembapan tinggi, peningkatan konveksi menjadi lebih intens dan persisten sehingga peluang terjadinya hujan ekstrem meningkat signifikan. Proses ini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan variabilitas iklim global, seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD), serta sirkulasi meridional, seperti cold surge dan Borneo Vortex, yang secara spasial dapat memperkuat atau memfokuskan zona konvergensi.

Penelitian periode 2001–2023 yang memanfaatkan data curah hujan harian dan analisis gelombang metode Wheeler–Kiladis menunjukkan perbedaan respons antara Padang dan Jayapura. Kota Padang, yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan diperkuat pengangkatan orografis Bukit Barisan, memperlihatkan bahwa gelombang Rossby Ekuatorial secara mandiri telah meningkatkan probabilitas hujan ekstrem. 

Intensitasnya makin tinggi ketika latar atmosfer berada dalam fase La Niña yang lebih lembap, dan mencapai puncak saat gelombang Rossby Ekuatorial berinteraksi dengan MJO, Kelvin, serta sirkulasi meridional sehingga membentuk konvergensi terfokus di pesisir barat Sumatera. Sebaliknya, Jayapura yang terletak di pesisir utara Papua dan berhadapan dengan Samudra Pasifik menunjukkan peningkatan hujan ekstrem paling kuat ketika gelombang Rossby Ekuatorial berinteraksi dengan sirkulasi meridional dan diperkuat gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), yang membantu memusatkan konvergensi di sekitar ekuator serta meningkatkan akumulasi uap air di utara Papua.

Perbedaan karakter temporal turut menegaskan pengaruh faktor lokal terhadap dinamika atmosfer. Padang cenderung mengalami puncak hujan ekstrem pada sore hingga malam hari akibat pemanasan siang dan penguatan orografis, sedangkan Jayapura lebih dominan pada dini hari yang mencerminkan peran proses laut serta propagasi sistem konvektif yang dipengaruhi gelombang atmosfer.

Keseluruhan temuan ini menegaskan bahwa pemahaman hujan ekstrem di Indonesia memerlukan pendekatan terpadu berbasis analisis spasial yang mengintegrasikan dinamika gelombang ekuatorial, variabilitas iklim global, dan karakteristik geografis lokal guna memperkuat sistem peringatan dini serta mitigasi bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!