Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Dapat Penghargaan ‘Fossil of the Day’, Indonesia D...
Lingkungan

Dapat Penghargaan ‘Fossil of the Day’, Indonesia Dianggap Gagal Menghambat Krisis Iklim

Dapat Penghargaan ‘Fossil of the Day’, Indonesia Dianggap Gagal Menghambat Krisis Iklim

Narasi besar penanganan krisis iklim dunia kembali menempatkan Indonesia dalam sorotan tajam. Pada Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Brasil, 15 November 2025, Indonesia menerima gelar satir “Fossil of the Day”, sebuah predikat yang diberikan kepada negara yang dianggap menghambat upaya global mengatasi krisis iklim.

Climate Action Network (CAN) International menilai bahwa kehadiran 46 pelobi industri energi fosil dalam rombongan resmi Indonesia mencerminkan dominasi kepentingan korporasi dalam perumusan kebijakan iklim. Jumlah pelobi yang begitu besar memunculkan pertanyaan mengenai arah komitmen Indonesia di tengah tuntutan percepatan transisi energi bersih.

Menurut laporan Kompas.com, sorotan dunia makin kuat ketika delegasi Indonesia memasuki perdebatan tentang Pasal 6.4 Perjanjian Paris, sebuah mekanisme pasar karbon global yang menentukan bagaimana negara menghitung, menukar, dan memverifikasi kredit karbon. Delegasi Indonesia dinilai mendorong aturan yang lebih longgar, termasuk kelonggaran standar permanensi penyerapan karbon dan perlakuan lebih lunak terhadap risiko pembalikan karbon.

Dari sudut pandang geospasial, hal tersebut menunjukkan bahwa pelonggaran seperti ini dapat berdampak langsung pada integritas lanskap penyerap karbon, khususnya hutan tropis, gambut dalam, dan wilayah pesisir. Tanpa aturan ketat, akurasi pemantauan perubahan tutupan lahan dan kondisi ekosistem berpotensi melemah sehingga membuka ruang bagi manipulasi data serta penyalahgunaan mekanisme offset.

Kegelisahan internasional juga diperkuat oleh kesamaan bahasa intervensi Indonesia dengan rekomendasi yang dikeluarkan industri karbon. Keserupaan argumen tersebut memunculkan dugaan bahwa posisi Indonesia lebih merepresentasikan kepentingan korporasi dibandingkan sains yang menuntut standar pengawasan ketat. Direktur Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menyatakan bahwa situasi ini mencerminkan realitas politik yang telah berlangsung lama, di mana kedekatan dengan oligarki energi fosil membuat transisi energi nasional berjalan lambat. Wilayah-wilayah yang secara geospasial memiliki potensi besar untuk pengembangan energi terbarukan tetap tertahan akibat kuatnya dominasi infrastruktur berbasis batu bara.

Gelar “Fossil of the Day” menjadi penanda penting bahwa komitmen iklim sebuah negara tidak hanya dilihat dari target yang diumumkan, tetapi juga dari konsistensi sikap dalam forum internasional serta kemampuan menjaga proses negosiasi dari kepentingan yang dapat melemahkan integritas lingkungan. Ketika mekanisme pasar karbon tidak dijaga melalui verifikasi spasial yang ketat dan ketika pengaruh industri fosil terlalu mendominasi, kredibilitas iklim Indonesia akan tetap dipertanyakan. Dunia menunggu langkah korektif yang lebih tegas, sementara dampak krisis iklim terus berlangsung tanpa memberi jeda.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!