Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius mengenai kemunculan Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia yang berpotensi kuat menjadi badai tropis dalam waktu dekat. Sistem cuaca ini membawa ancaman cuaca ekstrem bagi wilayah perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) seiring dengan meningkatnya kecepatan angin di pusat sistem tersebut.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, mengonfirmasi bahwa peluang peningkatan status bibit ini sangat besar. "Bibit Siklon Tropis 90S berpeluang tinggi untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan," kata Ari Wibianto di Mataram, NTB pada Rabu, 4 Maret 2026.
Melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, BMKG melaporkan bahwa Bibit Siklon Tropis 90S saat ini memiliki tekanan udara sebesar 998 hektopaskal (hPa). Sementara itu, kecepatan angin maksimum di sekitar pusat sistem telah mencapai 35 knot.
Sistem cuaca tersebut terpantau bergerak ke arah timur. Berdasarkan pemodelan cuaca, sistem ini diprediksi akan mendekati wilayah perairan selatan NTB pada Kamis malam hingga Jumat dini hari. Meski ancaman nyata mengintai, kondisi langit di NTB saat ini terpantau masih relatif cerah berawan.
"Jika dilihat dari kelembapan lapisan atas belum terlalu basah. Jadi, NTB saat ini masih cerah hingga berawan," ujar Ari menjelaskan kondisi terkini, dikutip dari ANTARA.
Interaksi Dua Bibit Siklon dan Gelombang Atmosfer
Situasi menjadi lebih kompleks karena keberadaan dua bibit siklon sekaligus di Samudra Hindia. Selain bibit 90S di selatan Jawa Tengah, terdapat pula Bibit Siklon Tropis 93S yang berada di dekat daratan sebelah barat laut Australia. Kemunculan ganda ini memicu suplai massa udara basah yang masif dan mempercepat pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah terdampak.
Kondisi tersebut diperparah oleh aktifnya beberapa gelombang atmosfer secara bersamaan, antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Low Frequency, dan Gelombang Kelvin. Kombinasi fenomena ini memperkuat proses konvektif di Nusa Tenggara Barat, yang diperkirakan akan memicu cuaca ekstrem hingga 8 Maret 2026.
Untuk merespons potensi ancaman tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh. Dampak dari badai ini bukan hanya berupa hujan lebat, melainkan juga potensi bencana hidrometeorologi yang dapat mengancam keselamatan.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang. Selain itu, potensi sambaran petir selama periode cuaca ekstrem ini juga menjadi perhatian utama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
