Seiring berkembangnya industri game modern, makin banyak pengembang yang menyadari bahwa realisme bukan hanya ditentukan oleh grafis yang indah, melainkan juga oleh detail lingkungan yang hidup dan memberikan pengalaman imersif. Salah satu contoh paling menonjol datang dari Rockstar Games, studio yang dikenal lewat karyanya yang kontroversial, tetapi inovatif. Dalam Grand Theft Auto V (GTA V), mereka berhasil menghadirkan sebuah kota virtual bernama Los Santos yang terasa begitu nyata, seolah pemainnya benar-benar berada di jalanan California Selatan.
Rockstar Games membangun dunia Grand Theft Auto V (Los Santos) tidak dari imajinasi semata. Tim pengembang melakukan riset lapangan dan memanfaatkan data spasial dunia nyata untuk merekonstruksi lanskap, jaringan jalan, dan elemen kota yang terasa autentik bagi pemain. Pendekatan ini melibatkan pengamatan langsung, dokumentasi visual, serta analisis peta digital yang dikombinasikan dengan data spasial sebagai referensi utama.
Los Santos merupakan representasi fiksi dari Los Angeles yang dibentuk melalui proses adaptasi spasial. Tim Rockstar melakukan perjalanan lapangan di California selatan untuk mengumpulkan foto dan video, serta menggunakan proyeksi peta digital, seperti Google Maps, sebagai dasar referensi tata letak wilayah. Hasilnya adalah kota permainan yang luasnya mencapai puluhan mil persegi, yang menyatukan pantai, pegunungan, dan wilayah perkotaan dalam satu peta yang padat namun terasa familiar.
Lalu, bagaimana sumber data dan teknik geospasial digunakan dalam proses pengembangan game yang begitu populer sejak pertama kali dirilis pada tahun 2013 tersebut?
Lahirnya Los Santos
Los Angeles menjadi titik awal penelitian intensif bagi Rockstar Games dalam menciptakan dunia Los Santos. Proses ini menyerupai tahapan akuisisi data dalam pemetaan modern, di mana tim mengumpulkan informasi melalui berbagai metode, termasuk survei lapangan dengan pemandu lokal serta sejarawan arsitektur. Dalam prosesnya, pihak pengembang berhasil melakukan pengambilan lebih dari 250.000 foto serta ratusan jam rekaman video yang mendokumentasikan lanskap perkotaan dan kehidupan sosial di California Selatan.
Tidak berhenti di situ, mereka juga melakukan wawancara dengan agen FBI, pakar mafia, hingga anggota geng jalanan untuk merekam bahasa, perilaku, dan nuansa sosial yang membentuk ekosistem kota. Semua informasi tersebut berfungsi sebagai data primer yang kemudian diproses, layaknya praktik geospasial ketika data lapangan diintegrasikan ke dalam sistem informasi geografis.
Tahap berikutnya adalah pemrosesan data, di mana data lapangan tersebut dipadukan dengan sumber sekunder, seperti Google Maps, Street View, model virtual globe, data sensus, hingga dokumentasi tentang Los Angeles. Proses ini dapat dianalogikan dengan teknik georeferencing, yakni penyelarasan data dari berbagai format untuk menghasilkan representasi spasial yang konsisten.
Mengambil Data ala Remote Sensing
Berdasarkan studi dan analisis peta resmi yang dipublikasikan dalam jurnal Remote Sensing berjudul “Do Game Data Generalize Well for Remote Sensing Image Segmentation?”, Rockstar memanfaatkan data spasial sebagai fondasi utama dalam pengembangan Grand Theft Auto V. Data tersebut mencakup citra satelit, peta aerial, foto lapangan, hingga peta permainan yang kemudian diselaraskan dengan representasi dunia nyata. Metode ini serupa dengan praktik pengindraan jauh (remote sensing), di mana berbagai sumber citra dipadukan untuk menghasilkan model spasial yang komprehensif. Dengan cara ini, Los Santos tidak hadir sebagai kota fiktif yang sepenuhnya abstrak, melainkan sebagai refleksi digital yang terinspirasi dari realitas geografis Los Angeles dan sekitarnya.
