Di tengah derasnya arus urbanisasi, garis pantai dunia kini berubah lebih cepat daripada sebelumnya. Banyak kota pesisir yang dulunya dipenuhi ekosistem alami, seperti mangrove dan padang lamun, kini disulap menjadi kawasan reklamasi, pelabuhan, atau permukiman baru.
Fenomena ini menjadi sorotan utama Dhritiraj Sengupta dari Universitas Southampton. Ia menegaskan bahwa pembangunan buatan di zona pantai melemahkan ketahanan alami wilayah pesisir terhadap ancaman, seperti erosi, badai, dan kenaikan muka air laut.
Pembangunan yang Mengikis Pertahanan Alam
Dalam dua dekade terakhir, reklamasi daratan pesisir menjadi tren global. Dari 135 kota pantai berpenduduk lebih dari satu juta jiwa, sekitar 78 persen telah melakukan reklamasi dengan total luasan mencapai lebih dari 250 ribu hektare. Luasan itu hampir sebanding dengan luas negara Luksemburg. Lahan-lahan baru ini umumnya digunakan untuk pelabuhan, kawasan industri, atau perumahan elit tepi laut.
Namun, di balik kemegahan pembangunan tersebut, ada konsekuensi ekologis yang serius. Reklamasi dan struktur buatan, seperti tembok laut serta pemecah gelombang, mengubah dinamika pantai. Arus air, pergerakan sedimen, hingga topografi pesisir ikut bergeser. Akibatnya, ekosistem alami yang berfungsi sebagai “sabuk pengaman” dari badai, seperti mangrove, rawa asin, dan dataran pasang surut, mulai kehilangan peran vitalnya.
Ironisnya, banyak proyek reklamasi justru dibangun di wilayah berisiko tinggi terhadap kenaikan muka air laut. Studi menunjukkan bahwa hampir 70 persen area reklamasi baru berada di kawasan yang rentan terhadap banjir pesisir ekstrem. Artinya, pembangunan yang seharusnya memperluas ruang ekonomi malah berpotensi menciptakan kerentanan baru.
Perspektif Geospasial
Untuk memahami dampak luas perubahan ini, pendekatan geospasial menjadi sangat penting. Dengan memanfaatkan citra satelit, seperti Landsat dan Sentinel, para peneliti dapat memantau perubahan garis pantai dari waktu ke waktu. Peta-peta tematik hasil analisis spasial membantu mengidentifikasi di mana reklamasi terjadi, seberapa cepat pertumbuhannya, dan bagaimana penggunaannya setelah proyek selesai.
Pemetaan spasial juga memungkinkan integrasi data topografi dan ketinggian permukaan (Digital Elevation Model) dengan proyeksi kenaikan muka air laut. Dari situ, dapat dilihat area mana yang paling rentan terhadap banjir rob atau abrasi. Dengan sistem informasi geografis (SIG), informasi tersebut dapat divisualisasikan dalam peta interaktif yang membantu perencana wilayah dan pembuat kebijakan mengambil keputusan berbasis data.
Selain itu, pemantauan berbasis waktu (temporal monitoring) menjadi cara efektif untuk mengungkap dinamika pesisir. Dengan menganalisis citra satelit dari tahun ke tahun, para ahli dapat melacak perubahan lahan reklamasi dan menilai bagaimana struktur buatan tersebut memengaruhi keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Pembangunan buatan di wilayah pesisir sering dianggap sebagai simbol kemajuan ekonomi. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, pembangunan tersebut justru dapat mempercepat kerusakan ekosistem dan mengancam kehidupan masyarakat pesisir.
