Memasuki tahun 2026, perhatian dunia kembali tertuju pada Greenland. Pulau terbesar di dunia itu telah menjadi pusat persaingan kekuatan global. Rencana Donald Trump pada 2019 untuk membeli Greenland yang dulu dianggap sebagai gagasan tidak realistis kini berubah menjadi kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang agresif dan terstruktur. Pemerintah AS melihat kawasan ini sebagai kunci untuk memperkuat posisi ekonomi dan strategisnya di tengah kompetisi global yang makin tajam.
Dilansir dari Tempo, minat Washington didorong oleh kekayaan sumber daya alam Greenland, terutama cadangan logam tanah jarang yang sangat besar. Mineral tersebut menjadi bahan baku vital bagi industri semikonduktor, pertahanan, dan teknologi energi hijau. Ketika lapisan es mencair akibat perubahan iklim, akses terhadap mineral tersebut emakin terbuka. Amerika Serikat berupaya memastikan pasokan yang stabil agar tidak bergantung pada dominasi rantai pasok yang selama ini dikendalikan Tiongkok.
Selain faktor sumber daya alam, posisi geografis Greenland memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Kawasan ini merupakan pintu masuk menuju Arktik yang kini berubah menjadi jalur pelayaran baru akibat mencairnya es laut. Perubahan tersebut mengalihkan rute logistik global dan membuka peluang kendali atas jalur perdagangan masa depan. Di wilayah ini pula terdapat Pangkalan Udara Pituffik yang selama ini menjadi titik penting dalam sistem pertahanan Amerika Utara sekaligus pusat pengawasan aktivitas Rusia di wilayah Kutub Utara.
Dalam situasi tersebut, pemerintahan Trump pada 2026 meningkatkan tekanan diplomatik kepada Denmark dan pemerintah otonomi Greenland. Meskipun kedua pihak menegaskan bahwa wilayah mereka tidak untuk dijual, Amerika Serikat tetap menawarkan investasi infrastruktur dan bantuan ekonomi untuk memperluas pengaruhnya serta membendung kehadiran Tiongkok dan Rusia. Strategi ini memperlihatkan bahwa penguasaan Greenland dianggap penting bagi kepentingan jangka panjang AS, tidak hanya terkait teritorial, tetapi juga stabilitas geopolitik dan penguasaan jalur perdagangan baru.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam konferensi pers menegaskan bahwa rencana akuisisi Greenland sedang dibahas secara aktif oleh Presiden Trump dan tim keamanan nasionalnya. "Presiden sangat terbuka dan jelas kepada Anda semua dan kepada dunia bahwa ia memandang langkah ini sebagai kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk mencegah agresi Rusia dan Tiongkok di wilayah Arktik, dan itulah sebabnya timnya saat ini sedang membicarakan seperti apa bentuk potensi akuisisi tersebut,” terangnya, dikutip dari NDTV via Tempo.
Pernyataan ini memicu reaksi cepat dari negara-negara sekutu. Dilaporkan detikNews, enam negara anggota NATO, yaitu Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, bergabung dengan Denmark untuk menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Greenland. Dalam pernyataan bersama yang dikutip Anadolu Agency, mereka menekankan pentingnya menjaga kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan wilayah tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa keamanan kawasan Arktik menjadi prioritas strategis bagi Eropa.
Ketegangan meningkat karena Amerika Serikat dan sekutu NATO memiliki pandangan yang berbeda mengenai masa depan Greenland. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan pejabat Denmark dalam waktu dekat untuk membahas isu tersebut lebih jauh. Situasi ini makin memanas setelah Trump mengkritik negara-negara anggota NATO melalui media sosial. Ia menyebut bahwa Tiongkok dan Rusia tidak takut terhadap aliansi tersebut tanpa keterlibatan penuh Amerika Serikat. Trump bahkan meragukan apakah negara-negara NATO akan memberikan dukungan kepada AS jika suatu hari negara itu membutuhkan bantuan.
