Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Arkeologi Gunakan Metode NTRIP, Arkeolog Berhasil Ungkap Pun...
Arkeologi

Gunakan Metode NTRIP, Arkeolog Berhasil Ungkap Punden Berundak di Situs Cibalay Bogor

Gunakan Metode NTRIP, Arkeolog Berhasil Ungkap Punden Berundak di Situs Cibalay Bogor

Di balik lebatnya hutan dan medan berbukit di wilayah Bogor, tersimpan jejak peradaban tua yang baru perlahan terungkap melalui penelitian ilmiah. Situs Cibalay menjadi salah satu bukti bahwa kawasan ini telah dimanfaatkan manusia sejak ribuan tahun lalu sebagai ruang sakral. Penelitian terbaru yang memadukan arkeologi dan analisis geospasial menunjukkan bahwa lanskap alam Cibalay tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga bagian penting dari sistem kepercayaan masyarakat prasejarah yang hidup di wilayah tersebut.

Situs Cibalay terletak di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Lokasinya sekitar 24 kilometer dari Kota Cibinong dan relatif sulit dijangkau karena tertutup hutan. Kondisi alam yang masih terjaga ini membuat banyak tinggalan budaya tidak mengalami perubahan besar sehingga pola ruang dan susunan batu masih dapat diamati dengan cukup jelas dalam kajian geospasial.

Gambar 1

Dalam kegiatan delineasi terbaru, tim dari Balai Pelestarian Budaya IX Jawa Barat yang berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung dengan dukungan Kementerian Kebudayaan serta Kementerian Kehutanan, berhasil menginventarisasi 38 titik yang berpotensi sebagai cagar budaya. Lima titik di antaranya telah ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya tingkat kabupaten. Proses pendataan dilakukan melalui pencatatan, pengukuran, pendokumentasian visual, serta pengumpulan informasi dari masyarakat sekitar untuk memahami konteks sejarah dan pemanfaatan situs.

Dilansir dari Nationalgeographic.CO.ID, hasil penelitian lapangan menunjukkan adanya struktur punden berundak yang terdiri atas tujuh hingga delapan undakan besar, dilengkapi menhir dan altar batu. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Situs Cibalay memiliki fungsi ritual sebagai tempat pemujaan leluhur. Setiap objek diberi penamaan sementara dan ditandai posisinya agar mudah dikenali dalam pemetaan kawasan dan analisis sebaran ruang budaya.

Gambar 2

Untuk memastikan ketelitian lokasi temuan, tim geodesi dari Itenas menggunakan metode NTRIP atau Networked Transport of RTCM via Internet Protocol. Metode ini memanfaatkan sinyal internet untuk menentukan koordinat secara presisi. Titik-titik temuan kemudian diolah menjadi peta batas kawasan dan jalur akses menuju situs, meskipun pengukuran sempat terkendala vegetasi yang cukup rapat.

Gambar 3

Data koordinat hasil pengukuran selanjutnya digabungkan dengan peta zonasi milik pengelola taman nasional. Proses overlay ini menghasilkan peta rekomendasi batas zona budaya yang dapat dijadikan acuan perlindungan kawasan. Kolaborasi antara arkeolog dan ahli geodesi menunjukkan bahwa pendekatan lintas disiplin sangat penting dalam upaya pelestarian situs budaya berbasis data spasial.

Secara historis, Situs Cibalay merupakan punden berundak dari masa Neolitik sekitar 2500–1500 SM yang dianggap sebagai cikal bakal arsitektur candi di Nusantara. Arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyatakan bahwa bangunan semacam ini dibuat oleh masyarakat Austronesia sebagai sarana untuk mengagungkan arwah leluhur. Hal ini menegaskan bahwa Situs Cibalay memiliki nilai penting dalam memahami perkembangan awal budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan dukungan data geospasial yang akurat dan kerja sama berbagai pihak, Situs Cibalay tidak hanya menjadi saksi bisu peradaban masa lalu, tetapi juga fondasi penting bagi pelestarian warisan budaya Indonesia di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!