Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat membuka tabir filosofi tata ruangnya melalui pameran temporer bertajuk Smarabawana. Ekshibisi ini mengupas tuntas gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono I mengenai keseimbangan kosmologi yang melampaui sekadar arsitektur fisik atau estetika visual bangunan.
Pameran yang dibuka di Kompleks Kedhaton pada Minggu, 8 Maret 2026 ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak hanya terpaku pada keindahan permukaan. Melalui narasi ruang yang mendalam, pengunjung diajak menggali makna di balik ornamen dan tata letak bangunan yang sering kali hanya berakhir sebagai latar belakang swafoto di media sosial.
Tata Ruang sebagai Kosmologi Kehidupan
Penyelenggaraan Smarabawana merupakan bagian dari rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam budaya Jawa, istilah Smarabawana merujuk pada pemahaman holistik mengenai ruang dan dunia yang mengintegrasikan dimensi sensorial, spiritual, serta pragmatis.
Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya menegaskan bahwa sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, tata ruang dirancang sebagai cerminan pandangan hidup. Hal ini mencakup konsep Catur Gatra Tunggal yang menyatukan keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai empat pilar utama keseimbangan.
“Tata ruang bukan sekadar planologi, tetapi kosmologi kehidupan. Di dalamnya tercermin nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban,” ungkap Sri Sultan dikutip dari laman resmi Pemda DIY.
Konsep ini berkaitan erat dengan Sumbu Imajiner yang membentang dari Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, hingga Laut Selatan. Garis ini melambangkan filosofi Sangkan Paraning Dumadi, sebuah simbol perjalanan eksistensial manusia yang menautkan hubungan antara mahluk dengan alam semesta. Keunikan kesatuan kosmologis inilah yang membawa Yogyakarta mendapat pengakuan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada 2023.
